Pembicara Terpilih IDF 2019: Pius Suratman Kawal Mimpi Masyarakat Cangkorah, Desa yang Dilupakan

November 05, 2019

Pius Suratman Kartasasmita dan Jeffri Yosep Simanjorang.

Pembicara terpilih IDF 2019, Pius Suratman Kartasasmita menyebut Desa Cangkorah di Batujajar, Bandung, Jawa Barat sebagai tempat yang dilupakan di antara hingar bingar panggung Citarum Harum yang tengah digaungkan. Dalam paparan berjudul “Promoting Community Based Tourism: Does Asset Based Community Development Approach Matter in Cangkorah?”, Pius menjelaskan Cangkorah dikelilingi institusi besar, tapi tak dilirik. Pius menyebut Cangkorah, tempat yang dilupakan. 

 “Jadi, ada institusi raksasa yang jadi tulang punggung nasional di sekitar Cangkorah, dan ini yang saya sebut ironi dengan kondisi di Cangkorah,” kata Pius yang merupakan dosen senior di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar).

Pius mengajar program Master Administrasi Publik dan Master Studi Pembangunan. Ia juga mengepalai Centre for Human Development and Social Justice di Unpar. Paparannya tentang Cangkorah ditulis bersama Jeffri Yosep Simanjorang, lulusan Master Studi Pembangunan di Unpar.

 

Cangkorah, Korban Penggusuran yang Dilupakan

Masyarakat yang tinggal di Cangkorah, menurut Pius, merupakan masyarakat tergusur karena pembangunan Waduk Saguling pada masa lalu. Masyarakat Cangkorah direlokasi akibat pembangunan perumahan elit di sekitar lokasi.

“Kami menurunkan mahasiswa (Universitas Parahyangan) sebanyak 84 orang selama sebulan  mensurvei  dan melihat kondisi masyarakat setempat,” lanjut Pius.

Hasil survei dan observasi menunjukkan, penduduk Cangkorah secara ekonomi lemah dan berpendidikan rendah. Sebagian penduduknya bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga (ART) di perumahan elit. 

Lokasi Cangkorah tidak berada di pinggir badan sungai Citarum yang kini sedang berbenah lewat program Citarum Harum.

“Tapi di dekat genangan Waduk Saguling yang airnya bisa pasang atau surut. Saat air pasang, dari Cangkorah terlihat pemandangan bagus, jika ada yang naik perahu,” kata Pius.

Sebaliknya saat air surut, Cangkorah menampakkan limbah dari 167 pabrik, terutama tekstil yang ada di sepanjang Jalan Batujajar.  Baunya menyengat dan terlihat kotor.

Secara geografis, Cangkorah hanya berjarak 300-an meter dari perumahan elit di wilayah Batujajar. Tatkala air sedang naik, warga Cangkorah bisa bepergian menggunakan perahu ke wilayah perumahan elit tempat kerja mereka. Namun saat air surut, perahu tak bisa jalan. Bahkan, genangan air menjadi lumpur yang tak bisa dilewati. Untuk keluar dari wilayah Cangkorah, warga harus memutar sepanjang 15 km lebih melewati kompleks Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

“Satu-satunya jalan yang lebih dekat, melewati jembatan apung yang dibuat tentara,” kata Pius.

Jalan memutar itu kadang kala juga tak bisa dilewati manakala ada latihan militer. Maklum, lokasi Cangkorah dekat dengan lokasi pelatihan militer.

“Bisa sejam, bisa dua jam, bisa sehari. Akibatnya, perjalanan mereka lebih jauh lagi,” tambah Pius.

 

Pendekatan ABCD untuk Membawa Mimpi dari Cangkorah

Di balik kondisi tertinggal dan terlupakan, masyarakat Cangkorah masih menyimpan mimpi. Mimpi itu lahir saat warga dan para pemimpin komunitas setempat menyadari kala senja tampak pemandangan menawan dari Cangkorah.

Sunset itu yang menginspirasi orang-orang sederhana di sana bermimpi. Tapi, untuk itu butuh transformasi yang luar biasa,” kata Pius.

Bermula dari mimpi itu, Pius berupaya menerapkan pendekatan Asset Based Community Development (ABCD), membangun Desa Cangkorah dengan mengedepankan aset yang ada di desa itu. Aset pertama, kumpulan institusi besar yang mengelilingi Cangkorah.

“Ini bisa jadi potensi kalau mereka peduli, bahwa di dekat tempat mereka ada sebuah desa dengan kelompok orang  yang bisa diberdayakan,” kata Pius.

Aset kedua adalah mimpi warga Cangkorah dan pemimpin setempat. Optimisme yang timbul, kata Pius, bisa untuk menggerakkan mereka mengejar mimpi.

Lalu bagaimana pendekatan ABCD ini bisa mengelola kondisi Cangkorah yang tertinggal dan terlupakan untuk merealisasikan mimpi? 

Pius melihat  Cangkorah perlu berjejaring dengan institusi besar yang mengelilinginya bisa memberi potensi besar.

“Kalau institusi-institusi ini sederhananya bilang, ‘Ya’.  Pertama, misalnya ada tanggul atau jalan yang bisa memberi akses ke perumahan akan sangat membantu,” katanya.

Tanggul akan berfungsi menahan air agar genangan tetap di dekat  Waduk Saguling. Dengan pembangunan tanggul,  laju pencemaran limbah dapat ditahan 30 persen  sebelum masuk ke wilayah genangan dekat Waduk Saguling. Airnya pun bisa dimanfaatkan untuk kegiatan olahraga dan wisata. Artinya, perumahan elit Kota Baru Parahyangan bisa membantu mewujudkan tanggul yang berfungsi sebagai jembatan untuk warga Cangkorah menyebrang. Ini akan mempermudah warga menjual wisata panorama senja. Kedua, perumahan juga bisa menjadikan Cangkorah beranda belakang mereka.

 “Apalagi mereka punya slogan edukasi dengan tatar Sunda,” kata Pius.

Artinya,  wisatawan di Cangkorah bisa diajak mengenal pertanian, peternakan burung, dan potensi lain yang bisa dikembangkan.

Ketiga, 167 pabrik di sepanjang Jalan Batujajar bisa membuat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal sehingga hemat bagi pabrik. Hal ini bisa didorong melalui pendekatan hukum.

“IPAL itu bisa jadi scientific tourism. Anak-anak bisa mendapatkan wisata edukasi untuk mengetahui bagaimana air kotor diolah jadi air bersih,” tambah Pius.

Keempat, bekerjasama dengan TNI untuk menjadikan latihan mereka sebagai arena wisata edukasi bagi anak-anak untuk mengetahui aktivitas tentara, terutama untuk yang  bercita-cita menjadi tentara. Tentu dengan mempertimbangkan rahasia negara harus dijaga dan pilihan latihan yang aman disaksikan masyarakat. Ia juga yakin cara ini akan semakin mendekatkan tentara dengan masyarakat luas.

Kelima, kerjasama dengan Indonesian Power selaku pengelola Waduk Saguling untuk membangkitkan listrik se-Jawa Bali.

“Bisa meniru Jatiluhur yang mengundang masyarakat untuk melihat turbinnya,” kata Pius.

Pius mengatakan sudah berkomunikasi dengan sejumlah pihak untuk menyampaikan mimpi besar warga Cangkorah. Menurutnya ada sejumlah respons positif.

“Pembicaraan kami diteruskan oleh militer sih,” katanya. 

Selain itu kata Pius, PLN juga berupaya membantu dan menjajaki pembuatan IPAL komunal dengan investor dari Cina. Dari Universitas dengan dana hibah, mahasiswa dan dosen berupaya mendampingi masyarakat. Pius tengah menunggu respons lebih lanjut dari pihak yang ingin membantu warga Cangkorah.

Upaya membantu  mewujudkan mimpi warga desa Cangkorah, merupakan langkah pengembangan Sub-tema 7 Indonesia Developmen Forum (IDF) 2019, yaitu Mengembangkan Talenta dan Pasar Lokal. Pius mengisahkan mimpi dari Cangkorah dalam Sesi Imagine, Developing Talent and Local Market  pada 23 Juli. Sesi ini merangkai dua hari perhelatan IDF 2019 yang mengambil tema besar Mission Possible:  Memanfaatkan Peluang Pekerjaan Masa Depan untuk Mendorong Pertumbuhan Inklusif”.

                                                        


--> -->