• Fathi Almirhea
    Fathi Almirhea
    Alumni Departemen Geografi Pembangunan, Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada
Ideas

Location Intelligent: Membangun Konektivitas dan Pasar Bagi IKM

2020

Lokasi, dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu faktor yang turut dipertimbangkan dalam analisis pembangunan. Faktor lokasi berperan penting untuk melihat bagaimana karakteristik dari sasaran pembangunan. Keluaran yang dihasilkan dalam analisisnya pun tidak hanya mengenai seberapa penting pembangunan harus dilakukan, tetapi juga sampai kepada daerah atau kawasan mana yang harus menjadi prioritas pembangunan.

Banyak sektor yang sejatinya memerlukan analisis lokasi mendalam guna mengoptimalkan peran dan dampaknya terhadap pembangunan, salah satunya adalah sektor industri. Alfred Weber (1909) bahkan pernah mengemukakan sebuah teori yang dikenal dengan teori lokasi industri. Di dalamnya menjelaskan mengenai di mana sebaiknya industri ditempatkan untuk meminimalisir biaya. Menurut Weber, biaya transportasi adalah faktor utama dalam penentuan lokasi industri, dilihat dari biaya pengangkutan bahan baku dan distribusi hasil produksi.

Apabila melihat pengembangan industri di Indonesia dari kacamata teori Weber, tampaknya faktor-faktor yang disebutkan dalam teori lokasi industri masih menjadi tantangan dalam pengembangan sektor industri, khususnya industri kecil dan mikro. Berdasarkan data dari Profil Industri Kecil dan Mikro yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik pada tahun 2018, setidaknya terdapat 21,11% industri kecil dan mikro yang mengalami kesulitan dalam pemasaran. Selain itu, terdapat 20,70% industri mengalami kesulitan bahan baku yang mana 14,79% kesulitan bahan baku karena lokasinya yang terlampau jauh.

Industri kecil dan mikro di Indonesia merupakan salah sektor yang strategis. Menilik data Profil Industri Kecil dan Mikro, jumlahnya mencapai lebih dari empat juta industri dengan serapan tenaga kerja mencapai 60% dari total tenaga kerja yang bekerja pada sektor industri. Oleh karena itu, industi kecil dan mikro dapat menjadi sub sektor yang sangat strategis untuk penggerak ekonomi wilayah. Tentunya jika hambatan-hambatan yang ada bisa diatasi dengan baik.

Location intelligence dapat menjadi salah satu metode guna meminimalisir permasalahan yang terdapat dalam pengembangan industri kecil dan mikro. Metode ini memanfaatkan berbagai data spasial yang saat ini telah tersedia sangat berlimpah. Hasil analisisnya dapat memberikan insight untuk menempatkan lokasi industri yang optimal, menganalisis pasar dan distribusi pemasaran, serta menganalisis distribusi bahan baku.

Ketersediaan data spatial adalah hal yang paling utama agar dapat membangun sebuah sistem berbasis location intelligence. Di era saat ini, ketersediaan data spasial bukanlah menjadi tantangan berat untuk dapat membangun sistem analisis lokasi. Banyak sekali data spasial yang mulai diagregasi oleh pemerintah, hanya saja masih belum dimanfaatkan dengan optimal untuk pengambilan kebijakan. Location intelligence bisa dijadikan oleh pemerintah untuk mulai serius memanfaatkan data dalam pengambilan kebijakan.

Manfaatkan Data Demografi untuk Analisis Pasar

Data demografi merupakan data dasar yang pasti dimiliki oleh setiap daerah. Data ini digunakan untuk analisis disetiap kebijakan yang akan diambil oleh pemerintah. Namun, data demografi masih jarang digunakan untuk menganalisis kekuatan serta sebaran pasar untuk mendorong daya beli masyarakat. Location intelligence dalam sektor industri kecil dan mikro dapat menjadikan data ini untuk melihat seberapa besar pangsa pasar yang ada disuatu wilayah. Tidak berhenti disitu, analisis lebih lanjut juga dapat memperlihatkan bagaimana kecenderungan preferensi dari konsumen pada wilayah-wilayah tertentu. Pemanfaatan lainnya ialah untuk merancang strategi distribusi produk agar lebih efisien namun menyasar pasar yang lebih besar.

Konsumen terbesar dari produk industi kecil dan mikro ialah kategori rumah tangga, mencapai 45% jika mengacu pada data Kementerian Perindustrian tahun 2019. Hal ini sebenarnya dapat menjadi dasar kebijakan agar industri mikro dan kecil dapat fokus dalam menguasai pasar lokal atau dalam wilayah untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Terdapat setidaknya dua kebijakan yang dapat diambil melalui location intelligence. Pertama, hasil analisis dapat digunakan untuk menempatkan lokasi industri dekat dengan pasar sesuai dengan hasil analisis pasar. Kedua, digunakan untuk merancang rute dan lokasi distribusi produk industri apabila industri telah terlebih dahulu dibangun namun produknya kurang mampu terserap oleh pasar disekitarnya.

Location Intelligence dalam Pembangunan Sentra IKM

Teori lokasi industri dari Weber turut membicarakan mengenai pentingnya aglomerasi dalam sektor industri. Aglomerasi industri, salah satunya dianggap mampu mendekatkan bahan baku karena industri yang satu umumnya membutuhkan industri yang lain untuk memenuhi kebutuhan bahan bakunya. Kedekatan tersebut nantinya akan menurunkan biaya produksi yang harus ditanggung oleh suatu industri.

Location intelligence akan mampu menganalisis secara akurat lokasi-lokasi yang dapat menjadi kawasan aglomerasi industri dilihat misalnya dari data sebaran industri, data kecenderungan pengelompokan industri berdasarkan jenis, dan data kebutuhan bahan baku industri. Selain itu, dengan mengacu pada analisis pasar, dapat dilakukan pengembangan sentra industri kecil mikro yang dekat dengan pasar. Hal ini memperlihatkan bahwa melalui location intelligence, konektivitas antar industri dapat dibangun dengan baik. Pengembangan sentra industri kecil dan mikro juga akan mampu menyelesaikan permasalahan secara holistik, yakni dari segi penyediaan bahan baku dan juga kedekatan terhadap pasar.

Pengembangan industri kecil dan mikro berbasis data location intelligence akan menjadikannya semakin tepat sasaran. Hal tersebut tentu akan mendorong peran industri kecil mikro terhadap pembangunan suatu wilayah. Ke depan, industri kecil dan mikro tidak hanya dilihat sebagai industri yang hanya mampu memenuhi kebutuhan domestik, melainkan juga dapat menjadi penggerak ekonomi wilayah dan menjadi pusat pertumbuhan baru.**


Komentar