• Yossy Suparyo
    Yossy Suparyo
    Yossy Suparyo lahir 16 November 1978 di desa kecil tepian Pulau Nusakambangan bernama Rawaapu, Patimuan, Cilacap. Dia dikenal sebagai pegiat rekayasa teknologi, manajemen pengetahuan, pendidikan populer, penelitian, dan pengembangan media komunitas. Keseriusannya dalam menekuni pekerjaan membawanya mendapat sejumlah penghargaan, seperti Pemuda Paling Berpengaruh versi Majalah Komputer (2011), Ashoka Fellow Indonesia (2015), dan menjadi tenaga ahli di sejumlah kementerian. Menempuh sekolah dasar di SDN Rawaapu I dan pendidikan lanjutan pertama di SMPN I Kedungreja. Setelah itu hijrah ke Kota Gudeg, Yogyakarta, untuk melanjutkan studi di STMN Wates, Kulonprogo mengambil Jurusan Mesin Produksi. Saat itu, dia mendapat beasiswa prestasi dan terpilih mengikuti…
Ideas

Strategi Replikasi Inovasi Desa Melek Internet di Indonesia

2019

Siapa sangka, inisiatif Pemerintah Desa Melung untuk memanfaatkan teknologi internet dalam tata kelola pemerintahan desa menjadi inspirasi kolektif desa. Inovasi Desa Melung diadopsi oleh ribuan desa di Indonesia, dari Gampong Cot Baroh di Kabupaten Pidie hingga Kampung Omon di Kabupaten Jayapura. Replikasi dan perluasan inovasi desa itu menjalar cepat lewat Jaringan Kerja Gerakan Desa Membangun.

Pada 2008, Pemerintah Desa Melung melakukan terobosan untuk pemanfaatan teknologi internet. Internet, bagi desa di kaki Gunung Slamet itu, memutus sekat isolasi Desa Melung akibat jauhnya lokasi wilayah dari kota kabupaten. Jauhnya jarak dan buruknya infrastruktur transportasi umum membuat desa ini dilabeli sebagai desa tertinggal.

Internet mampu menjembatani komunikasi antarpihak, sekaligus menjadi media penyebaran informasi desa ke ruang publik. Pada 2011, Desa Melung mulai merasakan dampak pemanfaatan internet karena popularitas desa terus meroket tajam. Beragam peristiwa, produk desa, dan kebijakan desa dapat diakses publik melalui website desa http://melung.desa.id.

Website desa menjadi media penyebaran informasi desa yang sangat efektif. Sejumlah media arus utama yang berada di kota-kota besar menangkap inovasi itu sebagai topik pemberitaan bernilai tinggi. Pemberitaan media massa menjadi jurus resonansi paling ampuh untuk menyebarluaskan praktik inovasi pada khalayak yang lebih luas.

Berkat penyebarluasan praktik inovasi di media massa, ribuan desa melakukan replikasi langkah yang diambil Desa Melung. Perluasan praktik inovasi tersebar dari Gampong Cot Baroh di Kabupaten Pidie, Nagari Baringin di Kabupaten Tanah Datar, Desa Hanura di Kabupaten Pesawaran, Banjar Jatiluwih di Kabupaten Tabanan, hingga Kampong Omon di Kabupaten Jayapura. Pemanfaatan internet di dunia perdesaan menjadi gerakan kolektif desa dengan panji Gerakan Desa Membangun.

Gerakan Desa Membangun menjadi model baru dalam kerja pemberdayaan karena dmampu melahirkan aktor, media, metode, dan pendekatan yang berbeda dari khasanah teori pemberdayaan masyarakat yang sudah ada. Gerakan Desa Membangun digerakan secara organik oleh tiga kekuatan, yaitu pemerintah desa, kelompok profesi/hobi, dan media online. Tak berlebihan bila gerakan ini dikenal dengan sebuatan dedemit, baik sebagai akronim desa-desa melek informasi dan teknologi maupun model kerja aktor dan penyebaran gerakan yang sangat cepat layaknya hantu.

Gampong Cot Baroh menduplikasi praktik inovasi Desa Melung setelah mereka menyaksikan liputan di sebuah televisi nasional. Selanjutnya, mereka mencari informasi yang lebih rinci melalui internet. Internet mempertemukan para pelaku gampong di Bumi Serambi Mekkah itu dengan para aktor desa di Kaki Gunung Slamet. Amazing, internet mampu menjembatani kerjasama dua aktor dari dua desa di daerah tertinggal yang berjarak ribuan kilometer.

Para kelompok hobi yang tergabung di Gedhe Nusantara menjadi aktor pendukung teknis praktik inovasi. Mereka memiliki Program 1.000 website desa gratis yang diluncurkan atas dukungan banyak pihak, ada Direktorat Pemberdayaan Informatika Kemkominfo, PANDI, Relawan TIK, Kelompok Blogger, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan beragam program pemberdayaan pemerintah yang ada di tingkat desa. Peran kelompok yang menyediakan meja bantuan (helpdesk) pada desa menjadi faktor penentu penyebarluasan praktik inovasi.

Replikasi internet desa di Tanah Papua dipelopori oleh Dinas Kominfo dan Perpustakaan, Pemerintah Kabupaten Jayapura. Mereka mengembangkan layanan pembuatan website gratis untuk pemerintah kampung dengan menduplikasi cara dan tahapan yang dilakukan oleh Gerakan Desa Membangun. Awalnya, mereka melakukan kunjungan kerja ke desa-desa di Banyumas, lalu membangun kolaborasi kerja dengan beragam kelompok hobi di Jayapura, untuk melakukan gerakan kampung bersuara di Bumi Cendrawasih itu.

Peran Gedhe Nusantara melalui konsep Oemah Gedhe yang mengusung idiom Rumah Bersama Para Inovator dan Pemberdayaan terus berkembang ke ranah lain yang lebih luas. Mereka menyelenggarakan kegiatan magang yang menampung program praktik industri untuk sekolah menengah kejuruan dan praktik kerja lapangan di perguruan tinggi. Program itu melahirkan banyak aktor baru yang mendukung pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di wilayah perdesaan.


Komentar
--> -->