Subtema
4

Strategi Mendorong Industri Mikro dan Kecil Naik Kelas

Banyak pihak menilai adanya kebutuhan yang mendesak terhadap kebijakan dan strategi pengembangan industri mikro dan kecil (IMK) sehingga bisa “naik kelas”. Harapannya adalah bahwa IMK  “naik kelas” dapat mengisi hollow middle dalam struktur industri nasional, dimana jumlah IMK begitu mendominasi (90 persen dari jumlah industri di Indonesia), namun produktivitasnya rendah sehingga belum mampu menjadi penyokong industri besar dalam akselerasi pertumbuhan ekonomi dan ekspor Indonesia.  Produktivitas IMK secara umum masih rendah, yang disebabkan oleh terbatasnya akses permodalan, pemasaran, bahan baku, dan terbatasnya kemitraan usaha. IMK juga belum menerapkan tata kelola dan standardisasi produk yang baik, serta memiliki kemampuan inovasi dan pengembangan teknologi produk, kewirausahaan, serta akses input produksi yang terbatas. Hanya sebagian kecil IMK juga telah terhubung dengan pasar ekspor, baik langsung maupun tidak langsung. Kendala-kendala ini menyulitkan industri skala mikro untuk naik kelas ke kecil, bahkan menuju skala IBS. Berbagai upaya pemerintah dalam mendorong pengembangan IMK belum optimal, sehingga diperlukan alternatif gagasan, praktik baik, dan model-model pengembangan bagi IMK untuk “naik kelas” dan mendorong tumbuhnya IMK-IMK baru yang berdaya saing.

Kata Kunci

Industri mikro dan kecil, “naik kelas”, produktivitas, akses bahan baku-permodalan-pemasaran, kemitraan usaha, tata kelola dan standardisasi, inovasi, kewirausahaan, ekspor.

Pendalaman sub-tema

  1. Praktik terbaik peningkatan kapasitas IMK
  2. Pengertian “naik kelas” dalam konteks pengembangan IMK
  3. Strategi peningkatan produktivitas IMK yang didukung permodalan, bahan baku dan pemasaran
  4. Strategi mendorong kemitraan IMK dengan industri sedang dan besar
  5. Strategi penguatan modernisasi bisnis, kewirausahaan dan inovasi IMK
  6. Strategi peningkatan kapasitas IMK untuk ekspor dan tergabung dalam jaringan produksi global