Efektivitas dari Upaya Penumbuhan Pusat-Pusat Pertumbuhan Baru di Luar Jawa

August 24, 2021

JAKARTA - Seiring dengan tantangan daya dukung lingkungan yang dipengaruhi aktivitas industri nasional yang terpusat di Jawa dan masih tingginya ketimpangan wilayah di Indonesia, persebaran pusat-pusat pertumbuhan ekonomi mulai diarahkan untuk dikembangkan ke luar Jawa. Namun, upaya ini masih menemui beberapa tantangan seperti keterbatasan penyediaan infrastruktur konektivitas dan Sumber Daya Manusia (SDM) serta belum adanya dukungan layanan perkotaan untuk menjamin kualitas hidup.

Hal ini yang mendasari Kementerian PPN/Bappenas, melalui Indonesia Development Forum (IDF) 2021, mengadakan survei daring yang diikuti 285 responden pada Inspiring Session Road to IDF yang dilaksanakan Selasa (29/6). Survei ini diikuti responden berumur 25-50 tahun yang berasal hampir dari seluruh provinsi di Indonesia dan rata-rata bekerja sebagai pegawai pemerintah, akademisi, pegawai swasta, mahasiswa, wirausaha, dan ibu rumah tangga. Topik survei disesuaikan dengan Subtema 5 Rekayasa Aktivitas Industri untuk Menumbuhkan Pusat-Pusat Ekonomi Baru dengan lima pertanyaan pendalaman. Survei ini juga dilakukan dalam rangka mendorong fasilitasi dan pengembangan kegiatan industri dan menjaring beberapa masukan untuk perbaikan kebijakan.

Beberapa hasil survei tentang efektivitas dari upaya penumbuhan pusat-pusat pertumbuhan baru di luar Jawa, di antaranya sekitar 35,8 persen responden menganggap peningkatan kepastian berusaha dan investasi sebagai langkah utama yang dapat mendorong rekayasa aktivitas industri untuk dapat menumbuhkan pusat-pusat perekonomian baru. Hanya 12,3 persen yang memilih penyediaan SDM di luar Jawa sebagai langkah terbaik dalam mendorong tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru berbasis industri.

Selain itu, kesesuaian perencanaan lokasi industri dengan tata ruang dan mempertimbangkan daya dukung lingkungan dianggap mayoritas responden (35,8 persen) sebagai isu utama yang menghambat pertumbuhan pusat ekonomi baru berbasis industri. Temuan ini sejalan dengan kondisi saat ini, di mana perencanaan kawasan strategis yang menjadi terobosan dalam pemerataan pertumbuhan ekonomi masih belum selaras dengan dokumen Rencana Tata Ruang dan Wilayah dan belum mempertimbangkan indeks risiko bencana dalam pemilihan lokasinya.

Sebesar 26 persen responden berpendapat bahwa isu utama penghambat stimulasi aktivitas industri dalam menumbuhkan pusat ekonomi baru adalah kelayakan aktivitas industri yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan dan persaingan pasar. Adapun, 17,5 persen berpendapat bahwa ketersediaan SDM terampil yang terbatas masih menjadi isu yang menghambat aktivitas industri saat ini. Oleh karena itu, penanganan isu ini membutuhkan dukungan kebijakan yang mengedepankan pendidikan dan pelatihan vokasi serta ketenagakerjaan di samping pengembangan infrastruktur, inovasi dan litbang, penataan ruang dan pertanahan, pemberdayaan IKM, penarikan investasi, dan akses ke pendanaan yang fleksibel.

Ketersediaan teknologi yang ramah lingkungan dipercaya 32,3 persen responden sebagai faktor kunci yang paling penting dalam mendorong tumbuhnya pusat-pusat pertumbuhan berbasis ekonomi hijau. Dengan kondisi pandemi Covid-19 saat ini yang banyak mempengaruhi tatanan kehidupan masyarakat dan melemahkan ekonomi, upaya rekayasa aktivitas industri melalui penumbuhan pusat-pusat ekonomi baru terutama di wilayah luar Jawa diharapkan dapat menggerakkan investasi serta mendorong penciptaan lapangan kerja baru dan pemulihan perekonomian.