Gotong Royong Era Digital, Pemerintah Siap Online-kan 59,4 Juta UMKM

April 02, 2019

Menkominfo Rudiantara menargetkan delapan juta UKM online di Indonesia pada tahun 2019 (Antara Foto)

Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara mengatakan ciri khas bangsa Indonesia adalah perilaku gotong royong. Seperti apa gotong royong di era digital seperti sekarang? Kata Rudiantara melalui share economy dengan masing-masing orang membawa alat produksi.

“Misalnya Gojek dengan mitranya. Gojek punya aplikasi, driver punya motor. Mereka gotong royong  berbagi keuntungan, share economy,” kata Menteri Rudiantara di acara Smart Citizen Day, akhir Maret 2019 di Jakarta.

Gotong royong ini bisa digunakan untuk mengembangkan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang ada di Indonesia. Dengan sistem kolaborasi, Rudiantara yakin, teknologi digital memunculkan peluang tumbuhnya usaha baru. Dia mencontohkan aplikasi Tokopedia dan Bukalapak yang membantu pengusaha kecil memasarkan produknya tanpa harus mempunyai toko.  

Karena itulah, Kementerian Kominfo dan Kementerian Koperasi dan UKM mendorong 59,4 juta pelaku UMKM untuk memanfaatkan layanan pasar digital lewat program UMKM Go Online. Dari jumlah total UMKM yang ada, hanya kurang dari 10 persen yang masuk di toko online. Rudiantara menargetkan 8 juta UMKM telah bertransformasi ke aplikasi teknologi digital pada akhir tahun 2019.

Program UMKM Go Online memberi peluang UMKM yang akan dionlinekan mendapatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) terbesar dalam 1 x 24 jam, berkesempatan dibina di Rumah Kreatif BUMN, keuangan inklusif, serta kesempatan membuat NPWP secara cepat. Para UMKM tersebut juga akan dibimbing mulai dari proses pengonlinean hingga manajemen dan promosi online.

“Tugas pemerintah adalah mengatur regulasi dengan mengurangi aturan yang menghambat dan akselerasi agar usaha kecil bisa scale up” kata Menteri Rudiantara di acara Smart Citizen Day.

Untuk mengejar target tersebut, Rudiantara mengatakan Kementerian Kominfo mempersiapkan infrastruktur information and Communication Technology (ICT) untuk membangun konektivitas antara pengusaha dengan pembeli. Salah satu caranya ialah program Palapa Ring atau proyek pembangunan serat optik sepanjang 36 ribu kilometer. Pembangunan infrastruktur juga bertujuan meningkatkan kualitas pengusaha kecil di daerah terluar, terdepan, dan tertinggal (3T).

Perluasan infrastruktur internet dan penguatan usaha kecil lewat UMKM Go Online ini disambut positif oleh Co-Founder yang juga Vice Chairman Tokopedia, Leontinus Alpha Edison. Dia mengatakan pemilik bisnis mikro kesulitan mengembangkan usahanya karena tak ada akses ke pembeli. Mereka membutuhkan modal besar untuk mengakses pelanggan dengan pergi ke kota.

“Kalau infrastruktur internet sudah ada, pelaku UMKM di pelosok bisa memanfaatkan teknologi ini untuk membesarkan usahanya tanpa harus ke kota,” kata Leontinus.

Setelah meng-online-kan bisnis, pengusaha kecil bisa memetakan pasar dan mengetahui karakter pembeli. Pendiri toko berkonsep, The Goods Dept, Anton Wirjono mengatakan UMKM perlu memperhatikan pengunjung toko onlinenya agar bisa mengetahui kebutuhan calon pembeli dan memperbaiki kekurangan produk mereka.

“Jadi, jangan pembeli saja yang diperhatikan, tetapi juga pengunjung yang tidak membeli produk kita. Teknologi digital membantu matchmaking kebutuhan calon pembeli dan barang yang akan kita jual,” kata Anton.

Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution menyebutkan strategi penguatan UMKM digital selain pembangunan infrastruktur, ialah peningkatan SDM digital. Peningkatan kapasitas ini bermanfaat untuk menciptakan pasar maupun produsen di sektor digital.

“Kurikulum di sekolah vokasi perlu disesuaikan dengan kebutuhan di era digital agar tak hanya bisa menghasilkan pekerja yang sesuai kebutuhan pasar, tetapi juga pengusaha yang membuka lapangan kerja,” ujar Darmin.

Usaha Sosial Diperkuat Aplikasi

Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan pemanfaatan teknologi komunikasi membawa perubahan kegiatan ekonomi bagi masyarakat miskin sehingga mendorong peluang kerja inklusif. Darmin mencontohkan aplikasi RegoPantes bagi petani dan Aruna untuk nelayan yang memotong rantai distribusi panjang sehinga mereka mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

“Aplikasi-aplikasi ini memberi harga pantas, mendorong produk distandarkan, meningkatkan keahlian petani atau nelayan di teknologi digital, dan mempertemukan dengan pembeli,” kata Darmin.

RegoPantes dan Aruna ialah contoh usaha sosial berbasis aplikasi digital. RegoPantes diluncurkan Pemerintah Jawa Tengah untuk menangkal tengkulak yang kerap merugikan petani. Sedangkan, aplikasi Aruna membeli produk nelayan dengan harga yang lebih tinggi dan mengurangi ketergantungan utang dari renternir.

Pendiri usaha pemberdayaan penyandang disablitas Thisable Enterprises, Angkie Yudistia mengatakan tengah menyiapkan aplikasi untuk para disabilitas. Selama ini, Angkie menjalankan usahanya secara offline. Misalnya, Angkie bekerjasama langsung dengan Go-Life untuk menyerap penyandang disabilitas yang akan dipekerjakan lewat Go-Massage, Go-Glam, Go-Auto, dan Go-Clean.

Keberhasilan Thisable Enterprise menyalurkan tenaga kerja disabilitas ke pelbagai perusahaan dibuntuti oleh peningkatan permintaan lowongan kerja dari penyandang disabilitas di kota-kota lain. 

“Karena itu, kami melakukan perekrutan dan pelatihan besar-besaran di 10 kota besar seperti Surabaya, Semarang, Bandung, dan kota-kota lain,” kata Angkie.

Tenaga kerja disabilitas yang tidak berasal dari kota-kota besar kesulitan mengikuti perekrutan yang dilakukan Thisable Enterprise. Inilah yang menjadi alasan Angkie untuk membuat aplikasi digital agar membantu penyandang disabilitas menjangkau informasi kerja.

Teknologi digital terbukti membantu mengembangkan UMKM dan memperkuat usaha sosial. Mengingat potensinya mendorong penciptaan lapangan kerja inklusif, satu tantangan kebijakan yang penting adalah mencari cara agar UMKM dan usaha sosial di Indonesia bisa terus berkembang.

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas) menggelar Indonesia Development Forum (IDF) untuk menjawab tantangan pengembangan UMKM dan usaha sosial di Indonesia. IDF 2019 yang digelar pada 22-23 Juli nanti akan mengambil tema “Mission Possible: Memanfaatkan Peluang Pekerjaan masa Depan untuk Mendorong Pertumbuhan Inklusif.” Batas waktu pengiriman Pengajuan Proposal telah diperpanjang. Ayo kirimkan idemu sebelum 11 April 2019!