Warung Pintar, Bersaing dengan Retail Modern

October 09, 2018

Pembayaran warung pintar juga bisa tanpa uang tunai. Sumber foto: Link Warung Pintar

Tak perlu lahan luas, gerai kelontong Warung Pintar hanya butuh  lahan seluas tiga kali tiga meter. Di dalamnya aneka barang kebutuhan sehari-hari seperti mie instan, minuman botol, detergen, dan lainnya, dijajakan. Namun berbeda dengan warung kelontong biasa, warung pintar ini dilengkapi alat pindai  barang, dispenser, lemari es, WiFi Unlimited, CCTV, charging station untuk kebutuhan listrik pembeli, sabak yang berisi aplikasi pendataan barang, akuntansi penjualan, dan penjualan tiket, pulsa serta token listrik.

“Semua saya dapatkan gratis,” kata Muiz, mitra Warung Pintar Damai Indah I, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, saat ditemui awal Oktober lalu.

Perlengkapan warung yang dipinjamkan ke mitra ini senilai Rp 30 juta. Selain mendapatkan warung berfasiltis lengkap dan modal barang, mitra juga mendapatkan dukungan pelatihan untuk memaksimalkan bisnis warung. Syarat kepesertaan cukup mudah. Calon mitra mesti mempunyai lahan yang jelas kepemilikannya–sewa atau milik pribadi--, area yang dekat dengan jalan raya agar mobil pemasok barang bisa masuk, serta dengan jarak minimal 150 meter dari warung pintar terdekat.

Warung Pintar sendiri adalah start up yang berbentuk warung dengan teknologi untuk memudahkan pengelolaan bisnisnya. Didirikan oleh kelompok muda yang malang melintang di usaha digital seperti

Agung Bezharie (mantan Investment associate East Ventures), Harya Putra (mantan Expansion Head EV Hive), dan Sofian Hadiwijaya (mantan VP of Business Intelligence GO-JEK), Warung Pintar menggaet sejumlah kios kelontong tradisional menjadi warung berbasis teknologi dengan dua pilar yaitu Internet of Thing dan Big Data Analytics.

Internet of Thing adalah sebuah konsep yang bertujuan untuk memperluas manfaat dari konektivitas internet yang tersambung secara terus-menerus. IoT digunakan untuk mempermudah transaksi jual beli di Warung Pintar. Sedangkan Big Data Analytics digunakan untuk mengembangkan warung sehingga omset menjadi lebih besar dan pendapatan kian bertambah.

Menurut Social Impact Project Manager Warung Pintar, Jiwo Damar Anarkie, usaha sosial ini muncul dari keresehan pendirinya saat melihat warung kelontong kalah dengan retail modern.  Kios tradisional sering tak mampu bersaing karena barang diperoleh dengan harga tinggi sehingga dijual lebih mahal, tak terampil mengatur keuangan, dan fasilitas toko yang terbatas.

“Warung Pintar membantu memperbaiki agar pencatatan keluar masuk barang terkomputerisasi sehingga mudah menghitung keuangan, harga barang bersaing karena kami sudah bekerja sama dengan produsen sehingga lebih murah 10-30 persen dari warung biasa atau bahkan minimarket,” ujar Jiwo.

Tak terbatas memberikan warung dan pelatihan, Jiwa menuturkan pihaknya juga membantu bila ada permasalahan di mitra. Setiap fasilitator harus berkeliling membantu sekitar 20 mitra binaan. Misalnya terkait barang yang tak laku atau sepi pembeli. Warung Pintar menyarankan mitranya untuk fokus pada produk yang diminati pembeli. Mitra juga diperbolehkan mengembangkan warung sesuai kreativitas masing-masing.

“Rencananya akan saya jadikan kafe yang menjual kopi, roti bakar, sosis bakar, karena ramai di malam hari,” ujar Muiz.

Dia juga siap menampung jajanan produksi rumahan sesama mitra warung pintar. Selain mendapatkan barang jual yang lebih murah, mitra juga bisa mendapatkan bahan baku seperti telur dan tepung lewat Warung Pintar Distribution Center.

Atasi Kesenjangan Lewat Ekonomi Kerakyatan

Warung Pintar menghadiri Pasar Ide dan Inovasi Indonesia Development Forum 2018. Di forum itu, kata Social Impact Project Manager Warung Pintar, Jiwo Damar Anarkie, mereka bertemu dengan pihak Badan Perencanaan Pembangunan Nasional untuk menyampaikan ide mengatasi kesenjangan pendapatan dengan penguatan warung kelontong masyarakat. Warung Pintar juga sempat bertukar pendapat dan mendapatkan masukan dari CEO Bukalapak Achmad Zaky saat di IDF 2018 lalu.

“Kami juga berbincang-bincang dengan start up yang lain bagaimana cara mengembangkan dan bisa diterima di seluruh pelosok Indonesia,” ujar Jiwo.

Sampai saat ini, mitra Warung Pintar telah berjumlah 600 gerai meski baru dirintis Agustus tahun lalu. Jumlah pendaftar kian bertambah hingga 20.000-an orang, melampaui target di tahun 2018 yang hanya 1000 gerai.

Warung Pintar ini sementara ini masih ada di Jakarta dan Tangerang. November, kemitraan akan ditambah ke wilayah Depok, Bekasi, dan Bogor. Jiwo tak menutup kesempatan kepada pemerintah daerah yang ingin membantu rakyatnya membuka usaha. Dia menyebut sudah ada percakapan dengan Bupati Banyuwangi Jawa Timur untuk mengembangkan Warung Pintar di sana.

 Warung Pintar dirasa menjadi solusi tepat mengatasi kemiskinan dan pengangguran. Berdasarkan survei internal Warung Pintar, 87 persen calon mitra yang bergabung memilik pendapatan di bawah Rp 5 juta. Setelah bergabung, mereka mendapatkan peningkatan pendapatan rata-rata 90 persen. Sebelumnya, profil penjaga warung 80 persen adalah pekerja serabutan atau pengangguran. Omset penjualan per hari rata-rata Rp 300.000-Rp 500.000.

“Tapi ada juga yang sampai Rp 6 juta- 9 juta per hari omsetnya, seperti Warung Pintar yang ada di Jalan Prof. DR. Satrio, Setia Budi, Jakarta Selatan,” kata Jiwo.

Langkah yang dilakukan oleh Warung Pintar sejatinya adalah pemberdayaan ekonomi kerakyataan seraya memanfaatkan teknologi digital. Warung Pintar terus mendorong berjejaring sesama mitra agar saling berbagi ilmu dan informasi serta saling menguatkan karena setiap warung mempunyai masalah yang berbeda-beda.

“Kalau memecahkan masalah bersama-sama lebih banyak solusi yang didapatkan,” kata Muiz, koordinator mitra Warung Pintar area Jakarta Selatan.

Layaknya semut yang tak hidup sendiri, gotong royong melakukan pekerjaan demi kesejahteraan bersama.**