Siasat Industri Kreatif Tembus Pasar Global

May 15, 2020

Founder Ikat Indonesia, Didiet Maulana (Ig Didiet Maulana)

Desainer sekaligus pendiri Ikat Indonesia Didiet Maulana mengatakan fesyen tanah air berpeluang menjadi kiblat baru mode dunia. Kolaborasi industri fesyen dan budaya dapat menjadi usaha nyata untuk melestarikan budaya nusantara sekaligus meningkatkan daya saing produksi. Alasannya, pasar global tak hanya melihat desain tetapi juga cerita dibalik produk fesyen.  
 
“Pasar dunia tanpa batas. Tak harus perang harga, kalau kita bisa membuat packaging yang bagus dan bisa memunculkan keunikan atau cerita pada setiap produk yang dihasilkan, dunia akan melirik,” kata  Didiet saat melakukan Live Instagram bersama Indonesia Development Forum pada Senin, 12 Mei 2020.
 
Sebagai informasi, data Kementerian Perindustrian memaparkan bahwa ekspor pakaian jadi di tahun 2019 mencapai USD 8,3 miliar. Sepanjang tahun 2019, industri fesyen atau pakaian jadi menyumbang kontribusi 5,4 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB), atau sekitar Rp  855 triliun. Industri fesyen juga memberikan pekerjaan lebih dari 4 juta penduduk Indonesia. Aliran produk fesyen ini tak hanya dipasok oleh industri besar tetapi juga kecil dan menengah (IKM). 
 
Ikat Indonesia sendiri telah berhasil memasarkan produknya di berbagai belahan dunia seperti Eropa, Amerika, Jepang, India, dan China. Didiet mengatakan kiat fesyen menembus pasar global ialah dengan menjadikan kualitas produk standar internasional dan harus mampu mengerjakan pesanan dalam waktu singkat.
 
Menurut Didiet, pesanan dari luar negeri biasanya berjumlah sangat banyak dengan waktu yang singkat. Meski demikian, pekerja kreatif tetap harus menjaga kualitas produk. Bila pasar telah terbuka dan pesanan berdatangan, Didiet menyarankan agar pekerja kreatif tak segan mengurus hak cipta agar tidak dikopi tanpa izin.
 
Selain itu, Didiet juga memaparkan faktor-faktor yang bisa memajukan fesyen nusantara ke pasar global, yakni pendidikan, pemasaran, dan kebijakan pemerintah. Sektor pendidikan misalnya, Didiet melihat perlunya regenerasi ke kelompok muda karena selama ini masih didominasi pengrajin yang menggerakan industri kreatif kebanyakan berasal dari kelompok tua.
 
“Pemerintah bisa memasukkan ekonomi kreatif ke dalam kurikulum pendidikan sehingga generasi penerus bisa menganggap ini adalah profesi yang legit,” ujar Didiet.
 
Data dari Kementerian Industri, jumlah pengusaha yang berusia di bawah 30 tahun masih sekitar 10,68 persen dari total pengusaha kreatif. Didiet menyarankan agar pelatihan terhadap generasi muda dilakukan di daerah-daerah lewat kerja sama dengan pemerintah daerah. Setelah dilatih, kata Didiet, pemerintah daerah bisa mendukung penciptaan komunitas industri kreatif yang digawangi oleh anak muda.
 
Bantuan lain yang bisa dilakukan pemerintah adalah dengan membuka peluang pasar luar negeri lewat pameran berskala internasional. Pengrajin Indonesia bisa mengikuti workshop dan roadshow di negara pusat industri kreatif dunia.
 
Sedangkan sektor kebijakan, pemerintah dapat memberikan kemudahan bagi pekerja kreatif untuk  mendapatkan bahan baku murah dan berkualitas. Akses pendanaan untuk memperbesar usaha serta kemudahaan mendaftarkan hak cipta akan meningkatkan kapasitas industri kecil menengah naik kelas.
 
Didiet menyadari upaya agar industri kreatif naik kelas dan masuk pasar global tak bisa dilakukan oleh pemerintah semata. Butuh kerja kolektif pelaku industri, akademisi, dan masyarakat untuk menumbuhkan ekonomi kreatif. Langkah Didiet dan Ikat Indonesia mendukung industri kreatif ialah melakukan kolaborasi dengan para pengrajin daerah yang belum bisa masuk ke pasar nasional.
 
“Misi kami ‘Mari Maju Bersama’. Ketika pengrajin sudah mampu mengakses pasar artinya satu masalah telah selesai. Karena itulah Ikat Indonesia memilih bekerja sama dengan pengrajin pelosok yang kesulitan akses,” kata Didiet.
 
Cara Didiet Maulana dan Ikat Indonesia bekerja sama dengan pengrajin tenun nusantara adalah salah satu langkah mendorong usaha mikro kecil menengah (UMKM) naik kelas. Kamu punya ide lain untuk meningkatkan kapasitas UMKM? Kirimkan karya ke Indonesia Development Forum (IDF) 2020 agar kamu bisa berkolaborasi dengan aktor pembangunan dari dalam dan luar negeri.
 
Tema besar IDF 2020 ialah ‘Indonesia’s Future Industrialization Paradigm: Value Creation and Adaptive Capacity for Socio-Economic Transformation. Forum internasional  yang diinisiasi oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional sejak 2017 ini mempertemukan para pakar pembangunan untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan berbasis data riset dan praktik baik.**