Pembicara Terpilih IDF 2019: Deasy Pane Mengungkap Dampak Positif Impor terhadap Ekspor

September 13, 2019

Deasy Damayanti Putri Pane

Pembicara Terpilih Indonesia Development Forum (IDF) 2019, Deasy Damayanti Putri Pane lewat penelitiannya membuktikan bahwa peran imported input sangat besar untuk meningkatkan produktivitas dan ekspor. Imported input yang dimaksud adalah barang dan jasa, selain aset tetap, yang diimpor dan digunakan sebagai input dalam proses produksi. Penelitian Deasy tersebut berjudul The Role of Imported Intermediate Inputs in Firms’ Productivity and Exports: Evidence from Indonesia.”  

“Peran imported input terhadap produktivitas itu sudah banyak dibuktikan dari berbagai studi di berbagai negara. Sedangkan untuk dampak terhadap ekspor belum banyak studi empirik yang memiliki metodologi yang kuat yang melakukan,” urai Deasy menjelaskan alasan penelitiannya. 

Deasy adalah PhD bidang ekonomi dari Australian National University, Australia. Judul tesisnya adalah “Firms in International Trade: Evidence from Indonesia”. Deasy juga bekerja sebagai staff di Direktorat Perdagangan, Investasi dan Kerjasama Ekonomi Internasional di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Mengukur Kontribusi Impor terhadap Ekspor

Deasy menjelaskan keputusan mengelola input, baik dari domestik maupun impor dari berbagai negara itu mempengaruhi biaya produksi perusahaan. Perusahaan, kata Deasy, akan memilih produk terbaik dengan harga termurah untuk meningkatkan efisiensi. Opsi dalam proses pengambilan keputusan inilah yang sangat penting agar bisa menggenjot produksi dan ekspor dengan biaya efisien.

Dalam hal ini, dampak imported input terhadap ekspor bukan hanya dari sisi berapa nilai input dalam rupiah (atau USD) terhadap peningkatan nilai ekspor.

“Berdasarkan penelitian saya, berapa banyak opsi dari kombinasi variasi input yang memberikan dampak sangat siginifikan bagi peningkatan nilai ekspor,” lanjut Deasy.  

Variasi input yang dimaksud Deasy antara lain berupa peran teknologi dan kualitas dalam meningkatkan revenue perusahaan. Keterbukaan akses terhadap berbagai pilihan input akan memudahkan perusahaan memilih input dengan kualitas terbaik.

“Selain itu, dalam rangka mengakses pasar ekspor tertentu, bisa jadi ada standar kualitas dan teknologi tertentu yang harus dipenuhi, dan akses ke berbagai input dengan variasi kualitas dan teknologi yang berbeda akan membantu perusahaan untuk akses pasar ekspor tertentu,” papar Deasy lagi. 

Artinya, transfer teknologi melalui imported input yang digunakan dalam proses produksi dapat mempromosikan kinerja perusahaan.

Pada era globalisasi, banyak perusahaan semakin terspesialisasi dan bergabung dalam rantai produksi global. Kondisi ini membuat akses terhadap berbagai input dan kemampuan untuk mengelola input makin krusial hingga mempengaruhi performance perusahaan tersebut di kancah perdagangan internasional. Performa perusahaan ini menimbulkan stigma negatif terhadap impor sehingga dijadikan alasan perang dagang. Negara dinilai akan rugi jika melakukan impor. Kebijakan membatasi impor sering dijadikan alasan jika negara menghadapi isu defisit negara perdagangan ataupun dalam rangka ingin melindungi sektor tertentu.

Deasy mencontohkan, kasus pembatasan terhadap imported inputs yang merugikan bagi industri di Amerika Serikat. Presiden Donald Trump berniat mengurangi impor untuk melindungi sektor baja dan alumunium. 

“Presiden Trump membatasi impor baja dan alumunium di Amerika Serikat. Beberapa bulan setelah itu, banyak industri yang sangat merugi dan mengurangi produksinya karena mereka tidak bisa mengakses bahan input atau harga inputnya semakin mahal,” Deasy mencontohkan.

Pada akhirnya, justru perusahaan yang dirugikan. Pekerja di perusahaan tersebut dan konsumen akhir yang terpaksa harus membeli barang jadi dengan harga lebih mahal.

Perlu Meninjau Kebijakan Non-tarif terhadap Imported Input

Pemerintah Indonesia, kata Deasy, tengah ingin menaikkan produktivitas sektor industri yang saat ini cukup rendah, sekaligus ingin menggenjot ekspor sektor industri.

“Jika akses terhadap imported input dibatasi, maka akan sulit untuk mencapai tujuan tersebut. Memang tarif impor sudah cukup rendah, tetapi non-tariff measures masih sangat banyak dan menghambat,” terang Deasy.

Salah satu yang menjadi isu adalah defisit perdagangan dan impor dipandang sebagai ancaman bagi ekonomi. Menurut Deasy, isu tersebut memang penting, tetapi kebijakan untuk mengurangi imported input kurang tepat. Karena imported input menjadi “bahan bakar” untuk produksi bagi banyak industri.

“Membatasi aksesnya sama saja akan mengurangi output dan ekspor, dan justru berpotensi untuk menambah defisit perdagangan,” tambahnya.

Deasy berharap penelitiannya akan mendorong lahirnya kebijakan yang membuka lebar imported input untuk peningkatan produktivitas dan ekspor sektor industri di Indonesia. Selain itu, akses terhadap imported input akan menjadi  “tiket” untuk dapat bergabung dalam global production network. GPN ini merupakan jaringan yang menghubungkan para pelaku ekonomi regional dan nasional yang tersebar secara geografis, bersaing dan bekerja sama untuk bagian ekonomi yang lebih besar.

“Oleh karena itu, hambatan, terutama non-tariff, perlu dikaji ulang dan dihilangkan,” tegasnya. 

Soal hambatan nontarif ini, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani menegaskan pemerintah memang perlu semakin ketat melindungi pasar dalam negeri dari barang konsumsi impor. Namun soal bahan baku produksi, pendapat Haryadi selaras dengan penelitian Deasy. Seperti dikutip dari Bisnis.com, ia mengingatkan pemerintah tidak boleh mempersulit arus masuk bahan baku industri yang belum bisa dipenuhi secara domestik.

Deasy memaparkan hasil penelitian ini dalam sesi Accelerating Structural Transformation IDF 2019 pada 22 Juli.  Penelitian ini menjadi bagian dari diskusi, sub-tema 1: Mempercepat Transformasi Struktural, yang antara lain mengulas strategi untuk mendukung pertumbuhan manufaktur untuk mempercepat transformasi struktural dan menciptakan lapangan kerja. Diskusi ini merangkai tema besar IDF 2019, “Mission Possible: Memanfaatkan Peluang Pekerjaan Masa Depan untuk Mendorong Pertumbuhan Inklusif”.