Relawan IDF 2019: Peran Pemuda Menyerap Ilmu, Membangun Pengalaman

September 12, 2019

Para relawan IDF 2019 berfoto bersama Menteri PPN/ Bappenas Bambang Brodjonegoro.

“Sebagai relawan, kami tidak hanya diberi tugas yang harus dipenuhi sesuai tenggat waktu, tapi kami juga selalu didorong ikut berpartisipasi aktif selama forum berjalan, dan mengikuti sesi diskusi yang membuat kami tertarik,” kata Kartika Fitrianingsih relawan Support for Social Media di Indonesia Development Forum (IDF) 2019. 

Kata Kartika, panitia memastikan agar para relawan mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya dari perhelatan dua hari IDF 2019 pada 22-23 Juli. Selain itu, menurut Kartika, IDF telah mengirimkan pesan penting bahwa melalui sektor apa pun, siapa pun bisa berkontribusi dalam pembangunan Indonesia.

“Mereka yang sukses di bidang masing-masing bisa berdampak positif, seperti memberdayakan usaha kecil, membuka lapangan pekerjaan, menginspirasi anak-anak muda. Bahkan, mempengaruhi pembuatan kebijakan. Dampak di sekitar lingkungan mereka ini, secara kolektif akan kemudian berdampak pada Indonesia,” lanjutnya. 

Kartika merupakan satu dari total 65 relawan yang turut berjibaku dalam dua hari penyelenggaraan IDF 2019. Mereka terbagi dalam lima kategori pekerjaan. Selain membantu tim media sosial, ada juga relawan bergabung dalam Support for Parallel Session, Support for IDF Evaluation, Support for Marketplace, dan Tim Bravo yang mendampingi peserta maupun pembicara penyandang disabilitas.

 

Masing-masing kategori memiliki satu kapten tim. Setiap kapten bertanggung jawab memastikan koordinasi kelompok. Mereka menjadi penanggung jawab  untuk berkomunikasi dengan perwakilan dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sebagai penyelanggara dan perwakilan dari Knowledge Sector Initiative (KSI) sebagai pendukung utama penyelenggaraan IDF 2019.

Para relawan ini merupakan anak-anak muda berusia 18-23 tahun dari wilayah Jakarta dan sekitarnya. Mereka yang dipilih dari seleksi yang dihelat sejak Juni 2019. Total yang mendaftar secara online sebanyak 901 orang. Selanjutnya diseleksi oleh Tim Bappenas dan KSI. Kriteria yang dijadikan pertimbangan antara lain, pengalaman dan motivasi mereka ingin bergabung dalam tim yang dipilih. Para volunteer yang lolos seleksi dibekali dengan briefing penugasan dan beragam persiapan lainnya sebelum terjun selama dua hari di IDF. Untuk memastikan IDF berjalan inklusif, semua relawan mendapat pelatihan pendampingan penyandang disabilitas GESI Awareness Training for IDF 19 Volunteer yang dipimpin Tim Bravo.

 

Bagi Tim Bravo, tahun ini menjadi kali kedua sebagai relawan IDF. Sebagai pendamping para penyandang disabilitas dalam IDF 2019, para anggota tim yang bergabung telah memahami konsep kesetaraan dalam dunia disabilitas. Para relawan dari Tim Bravo ini juga kerap menyosialisasikan cara peserta non-disabilitas berinteraksi dengan penyandang disabilitas. 

Rizky Pratiwi yang menjadi Kapten Tim Bravo di IDF 2019 menyatakan senang dan bangga bergabung di IDF.

“IDF 2019 menjadi salah satu wadah bagi pemerintah dalam penyaluran aspirasi yang nantinya akan dijadikan bahan dalam pembuatan kebijakan oleh pemerintah Indonesia,” kata Rizky memberi alasan.

Rizky mengatakan sangat terkesan dengan  penyelenggaraan IDF yang sangat inklusif.

“Materi yang dibahas pun cukup komprehensif, serta para pembicaranya dengan latar belakang yang berbeda,” terang Rizky.

Nur Mochamad Rozien Nabila, mejadi Kapten di tim Support for Parallel Session. IDF 2019 baginya telah memberikan kesempatan penting untuk mengenal dan berinteraksi langsung dengan orang-orang yang berasal dari latar belakang berbeda. Termasuk para pembicara dan peserta dalam sesi yang menjadi favoritnya, yaitu sesi Plenary Khusus Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Sesi itu membuka wawasan saya bahwa semua Warga Negara Indonesia mempunyai potensi dan kesempatan untuk memajukan daerahnya. Melalui IDF juga, rasa nasionalisme saya semakin tinggi. Saya diingatkan melalui IDF bahwa setiap anak bangsa mempunyai kewajiban untuk peduli dengan negaranya,” tambahnya.
Pengalaman menjadi Tim Kapten  Support for Evaluation IDF 2019  meninggalkan kesan tersendiri bagi Haniifah Rihhadatul’aisy. Hani dan timnya bertanggung jawab untuk mendapat banyak responden untuk disurvei dan dan diolah datanya.

“Selama menjadi kapten, tertanam di alam bawah sadar bahwa saya harus harus datang lebih pagi dari yang anggota saya ketika hari-H. Saya masih ingat ketika orang dari Migunani (pelaksana Evaluasi IDF 2019) berkata bahwa IDF ini pakai dana negara, maka dari itu kita harus betul-betul menjalankan survei ini sebaik mungkin. Ini untuk negara, pastinya,” tegas Hani.

Dalam IDF 2019 ini, Hani mengaku banyak belajar dari penyelenggaraan Pasar Ide. Kata dia, Pasar Ide IDF 2019 memiliki penataan ruang yang unik, layaknya di pasar tradisional. Pasar ini bukan untuk berjualan barang, melainkan menjual ide. Menurut Hani, konsep ini tidak pernah ditemukan di manapun.

“Pemilik ide menyampaikan idenya dengan baik yang hasilnya pun akan dituangkan ke dalam bentuk grafis. Serius, ini paling menarik buat saya!” cetus Hani.
Sepakat dengan Hani, relawan anggota tim Support for Social Media, Muhammad Naufal Maulana mengungkapkan, IDF 2019 baginya menjadi pusaran banyak gagasan.

“Pokoknya menjadi wadah untuk pengagas menyampaikan ide mereka untuk pembangunan keberlanjutan Indonesia,” kata Naufal

Naufal bercerita dia berkesempatan mewawancarai tokoh penting internasional, aktivis linkungan dan kemanusiaan, serta peneliti yang aktif dalam bidangnya untuk menciptakan ide baru dan memberdayakan masyarakat. Informasi-informasi yang diperoleh selama penyelenggaraan IDF 2019 sangat membantunya untuk mendalami bidang keilmuan yang dia sukai yaitu isu pembangunan berkelanjutan. Isu tersebut banyak mengemuka dalam penyelenggaraan IDF 2019.

Semua 65 relawan telah menyelesaikan tuganya mengawal IDF 2019. Tugas mereka mendapat apresiasi positif Menteri PPN/ Bappenas Bambang Brodjonegoro dalam penutupan IDF 2019. Mereka menjadi bagian penting terwujudnya IDF 2019 yang bertema Mission Possible: Memanfaatkan Peluang Pekerjaan Masa Depan untuk Mendorong Pertumbuhan Inklusif.”

Terima kasih untuk para relawan. Semoga bisa lanjut mengembangkan ilmu untuk pembangunan Indonesia!