Pitch Competition Winner IDF 2019: Yeti Yuli Astuti, Membangun Ruang Kolaborasi, Melahirkan Seratus Lebih Usaha Kecil

September 09, 2019

Para pegiat Komunitas The Local Enablers.

Peraih Pitch Competition Winner IDF 2019, Yeti Yuli Astuti bersama para pegiat Komunitas The Local Enablers (TLE) di Bandung membangun ruang kolaborasi yang telah melahirkan sekitar 140 unit usaha kecil dan wirausaha sosial. Ruang kolaborasi ini merupakan ruang untuk bertemu, diskusi, dan berkreasi. Sejak awal 2019, ruang kolaborasi yang berada di Jatinangor, Jawa Barat itu dinamai “Ruang untuk Kawan”. Nama ini juga menjadi judul dalam paparan singkat di ajang IDF 2019, selaras dengan Sub-Tema 6, Membina Para Pelaku Usaha Sosial.

“Usaha yang lahir tersebar di berbagai daerah, terutama di Jawa Barat. Ada juga beberapa usaha di luar Jabar, yang didirikan mahasiswa saat masih di Bandung yang kemudian kembali ke daerah masing-masing. Setiap unit usaha rata-rata memiliki dua hingga tiga desa binaan.” terang Yeti yang merupakan Co-founder The Local Enablers.

Selain menjadi CEO TLE, Yeti juga merupakan Presiden Direktur startup Sacita Muda. Yeti berpengalaman dalam kerja-kerja pemberdayaan perempuan, berupa kewirausahaan hingga keterampilan terkait manajemen keuangan. Dia kerap datang ke daerah pedesaan untuk membantu masyarakat lokal, terutama perempuan untuk merencanakan dan mengembangkan komunitas miskin  melalui aktivasi kewirausahaan sosial. Sacita Muda pada 2017 mendapatkan Penghargaan Perwira dari Gubernur Jawa Barat sebagai Bisnis Start-Up Baru dalam Pendidikan & Pemberdayaan.

Apa saja 140 lebih unit usaha yang lahir dari TLE? Yeti memberi contoh Maner, merek parfum dengan lokasi pemberdayaan di Palembang, Sumatera Selatan. Usaha rintisan ini telah berdiri selama dua tahun. Ada pula Fruits Up yang memberdayakan petani mangga di Cirebon sejak lima tahun silam. Dikutip dari Tribunnews Jabar, Fruits Up adalah merek produk olahan mangga berbagai rasa yang dikemas dalam botol yang didirikan oleh tiga alumni Universitas Padjadjaran.

Selain menlahirkan seratus lebih unit usaha kecil lewat ruang kolaborasi, TLE juga telah membina 7.500 UMKM di Jawa Barat dan mereplikasi proses aktivasi kewirausahaan sosial ke 101 Perguruan Tinggi di Indonesia. TLE yang berdiri sejak 2014 ini juga telah melatih dan mendampingi 100 peternak bebek di Jawa Barat dan melatih 24.525 mahasiswa untuk meningkatkan kapasitas.

Coworking Space dan Pendampingan Gratis

Yeti bersama para pegiat TLE mendirikan Ruang untuk Kawan, semacam coworking space  gratis, untuk beragam kegiatan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan wirausaha sosial. Ruangan tersebut berkonsep kekinian, dilengkapi dengan tempat ngopi, serta sharing dapur untuk usaha pemula yang sedang melakukan riset kewirausahaan sosial maupun workshop pengembangan produk. Coworking Space Ruang untuk Kawan menjadi tempat berkumpul, menyiapkan program, akses pada literasi-literasi baru, akses pada tools keilmuan terkini, wifi, akses pada beberapa perangkat komputer bebas pakai, dan konsultasi gratis.

“Intinya ruang ini menjadi tempat untuk pengembangan kapasitas manusia. Terutama para anak muda yang memiliki semangat tinggi untuk belajar menjadi entrepreuneur, mahasiswa yang kurang mampu secara ekonomi, para pegawai yang terumahkan, masyarakat kecil, dan juga para ibu rumah tangga yang ingin belajar,” terang Yeti. 

Peran para pegiat TLE adalah menjadi teman sharing dan pendamping bagi mereka yang ingin belajar di Ruang untuk Kawan.

“Di antaranya, berupa pendampingan model bisnis, pengembangan produk, financial management, kapasitas berjejaring, dan public speaking,” sambung Yeti.

 

Dalam ruang ini, para penerima manfaat juga  dibekali dengan nilai-nilai dasar, persahabatan, kepemimpinan, diperkenalkan dengan gambaran masa depan ideal (visioning), diperkaya dengan berbagai input kreatif (pengetahuan dan keterampilan masa depan). Selain itu mereka juga dihubungkan dengan berbagai pemangku kepentingan yang mampu menyediakan berbagai akses sumber daya (man, machine, methode, material, money).

 

Metode pembelajaran atau pendampingan di Ruang Untuk Kawan dilakukan secara transformatif (transformative learning) berbasis design thinking dengan beragam bentuk kegiatan seperti lokakarya, pelatihan, diskusi harian dengan mentor, serta kegiatan aksi (action learning) lainnya. TLE juga mengembangkan kanvas-kanvas pembelajaran yang disusun untuk mempermudah penyampaian materi.

Menurut Yeti, Ruang untuk Kawan ini didanai dari keuntungan yang dihasilkan oleh unit usaha TLE yaitu Sacita Muda.  Mahasiswa yang banyak bergabung dan belajar di Ruang untuk Kawan berasal dari Universitas Papadjajaran, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Institut Manajemen Koperasi Indonesia (Ikopin).

 

Menyempurnakan Kurikulum, Memperluas Kolaborasi

Dalam jangka pendek, TLE melalui wadah Ruang untuk Kawan ingin menyempurnakan kurikulum untuk mendampingi UMKM, terutama yang bergerak di wirausaha sosial. Sedangkan untuk jangka menengah dan panjang, TLE ingin memperluas kolaborasi dengan berbagai entitas bisnis dan bekerja sama dengan pemerintah. 

“Di pemerintah kita banyak program kita fasiltasi pendampingan UMKM, ada pelatihan teknis dan ada pelatihan bisnis. Harapannya bisa  dikawinkan dengan program di Ruang untuk Kawan, yang di dalamnya berisi teman-teman yang berpotensi jadi wirausaha,” kata  Yeti.

Untuk akses permodalan, Yeti mengaku tidak menjadikan hal tersebut sebagai prioritas dalam upaya pemberdayaan di Ruang untuk Kawan.

“Sebelum  bergabung banyak yang berpikir usaha baru bisa mulai kalau sudah punya uang. Yang mau kita tularkan sebenarnya adalah memulai usaha bisa dari nol rupiah. Yang  terpenting adalah kapasitas manusianya, dan jika jejaringan sudah terbangun bagus, menurut kita sudah bisa mulai usaha,” papar Yeti lagi.

Pada Indonesia Development Forum Yeti tampil di sesi Ideas and Innovations Marketplace, Co-creating and Collaboration, pada 22 Juli, 2019. Tema besar IDF 2019, “Mission Possible: Memanfaatkan Peluang Pekerjaan Masa Depan untuk Mendorong Pertumbuhan Inklusif.” 

Selamat untuk Yeti Yuli Astuti telah memenangi Kompetisi Paparan Singkat IDF 2019!