Best Infographics IDF 2019: Mena Indonesia, Menguatkan Masyarakat Lokal dengan Menjaga Utuh Tradisi

September 04, 2019

Ni Nyoman Sri Natih Sudhiastiningsih dan Ignatia Dyahapsari .

Menguatkan masyarakat lokal bisa dilakukan tanpa harus mengintervensi budaya mereka. Demikian ditegaskan Tim MENA Indonesia, pemenang Kompetisi Ide Kategori Infografik Indonesia Development Forum (IDF) 2019 dengan karya berjudul Co-design to Support Village Empowerment in Ngada, East Nusa Tenggara”.

“Jadi kita tidak mengubah apa yang masyarakat punya, tapi mengembangkannya sesuai kebutuhan mereka,” kata Direktur Program MENA Indonesia sekaligus pembuat desain infografik yang memenangi kompetisi IDF, Ignatia Dyahapsari atau biasa disapa Riri

MENA Indonesia berupaya membantu masyarakat mengembangkan dan memanfaatkan tradisi lokal, keterampilan, dan lingkungan alam mereka untuk meningkatkan standar kehidupan dan mengurangi kesenjangan sosial. MENA Indonesia saat ini bekerja di beberapa desa di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan fokus utama di Desa Adat Bena. Pada MENA Indonesia bergabung orang-orang dari dua disiplin ilmu, yaitu antropologi dan desain. 

Pendekatan yang dilakukan MENA Indonesia di Ngada adalah berkolaborasi dengan masyarakat yang disebut dengan collaboration design (co-design).

“Kita menggabungkan dua hal dari sisi design thinking dan pendekatan etnografi, hanya etnografinya singkat. Kita pergi ke Ngada kita tinggal dengan masyarakat agar tahu, apa sih kebiasaan masyarakat setempat,” kata Chief Executive Officer (CEO) sekaligus Co-founder MENA Indonesia Ni Nyoman Sri Natih Sudhiastiningsih.

Perempuan yang biasa dipanggil Natih ini juga merupakan peneliti antropologi di Universitas Indonesia (UI). Menurut Natih, mengenali masyarakat lebih dahulu sebelum mengembangkan program pemberdayaan akan membuat mereka lebih sensitif terhadap kebutuhan masyarakat sasaran.

Mengeksplorasi Tenun Desa Bena di Ngada

Di Ngada, MENA Indonesia berkolaborasi dengan masyarakat Desa Bena, desa wisata adat. Dikutip dari Kumparan, Kampung Bena adalah salah satu desa adat tertua di NTT. Diperkirakan telah ada sejak 1.200 tahun lalu.

Tim MENA Indonesia tinggal selama empat bulan di Desa Bena sebelum membuat inovasi produk bersama para pembuat tenun.

“Kita mengeksplorasi potensi, dimulai dengan mengenali apa saja sumber daya alamnya juga kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM). Salah satu yang kita lihat adalah tenun, tapi di sana pengrajin yang benar-benar bekerja menenun tidak ada, karena menenun hanya dianggap sebagai selingan dan keterampilan turun temurun,” lanjut Natih. 

Mereka juga menenun sendiri, tanpa bergabung dalam kelompok. Tenun-tenun yang diproduksi di Desa Bena berupa lembaran lebar dengan rata-rata ukuran 150x100 cm.

“Sayangnya itu kurang laku, termasuk oleh turis-turis Eropa. Banyak wisatawan yang budget-nya terbatas dan kapasitas tas-nya untuk membawa oleh-oleh juga terbatas,” terang Natih. 

Lembaran-lembaran kain tenun pada akhirnya dalam waktu cukup lama dipajang di depan-depan rumah, terpapar debu dan panas matahari sehingga berisiko cepat rusak.

Berdasarkan kondisi tersebut, menurut Riri, MENA Indonesia mengidentifikasi adanya persoalan pemasaran dengan lembaran besar kain tenun produksi Desa Bena.

“Yang kita lakukan kemudian, membuat mereka tetap melakukan hal yang sama, tapi dengan inovasi yang tidak mengubah apa yang mereka punya,” kata Riri.

MENA Indonesia lantas mencoba mengajak penenun untuk membuat ukuran kain tenun yang lebih kecil, dengan motif, warna, dan cara menenun yang sama. Dengan ukuran kecil, kain-kain tenun bisa berfungsi sebagai aksesoris berupa gelang, anting, dan lain-lain.  

“Kita tidak akan intervensi corak dan lain-lain, dan tidak akan memotong kain tenun. Karena kita benar-benar menghargai prosesnya,” kata Riri. 

 

Pada mulanya, hanya satu penenun yang mau mencoba memproduksi kain-kain dengan ukuran kecil.

“Namanya Mama Yustina, kemudian dia coba jual. Ternyata, turis lebih suka ukuran kecil-kecil. Nah, ketika banyak yang beli di tempat Mama Yustina, akhirnya mama-mama yang lain mau coba,” tambah Natih.

Kini, ada lima penenun yang bergabung dalam kolaborasi bersama MENA Indonesia. Kelima penenun itu mengirim produksi mereka untuk dipasarkan di Bali dan Jakarta oleh Tim MENA Indonesia, serta menjual langsung di Kawasan Desa Adat Bena.

 

Membangun Komunitas Penenun hingga Modifikasi Wisata Desa

 

Natih mengungkapkan masih banyak pekerjaan rumah MENA Indonesia untuk Desa Bena.

“Kita akan balik ke Ngada untuk membentuk komunitas pengrajin, karena belum ada, dan kita membuat sistem di sana,” kata Natih.

Sistem yang dimaksud yakni pembenahan manajemen keuangan dan organisasi. Sebab, selama ini penenun tidak pernah menghitung biaya produksi untuk bisa digunakan dalam menentukan harga jual secara lebih. Sedangkan untuk pembentukan komunitas, MENA akan mengawal organisasinya. 

Dari sisi inovasi pemasaran, kata Natih, MENA Indonesia tengah merancang penggunaan gelang sebagai tanda tiket masuk sekaligus sebagai suvenir khas Desa Adat Bena.

“Dibanding hanya dengan memberi kertas-kertas, tiketnya bisa berupa gelang,” lanjut Natih lagi.

Ia berhitung, dengan jumlah 40 keluarga, maka diperkirakan setiap hari mereka akan memproduksi lima gelang tiket untuk memenuhi rata-rata 200 wisatawan yang mengunjungi Desa Bena. Besaran harga tiket akan diserahkan pada pengelola desa adat.

“Kita sedang mendekati para tetua desa adat untuk inovasi ini,” kata Natih.

Di perhelatan IDF 2019, paparan Tim MENA Indonesia dibawakan Savira Lavinia Raswari, Chief Creative Officer (CCO) MENA Indonesia pada 22 Juli 2019. Safira tampil pada Sesi Ideas and Innovations Marketplace - Connecting for Scaling Up.   Sementara Riri bergabung dengan tim Graphic Recorder Indonesia (GRID), bersama-sama membuat mural graphic recording yang menggambarkan poin-poin penting diskusi sepanjang perhelatan IDF 2019.

Upaya Tim MENA Indonesia di Desa Bena, Ngada selaras dengan sub-tema 7, Mengembangkan Talenta dan Pasar Lokal dalam lingkup tema besar  IDF “Mission Possible: Memanfaatkan Peluang Pekerjaan Masa Depan untuk Mendorong Pertumbuhan Inklusif”. 

Selamat untuk Tim MENA Indonesia sebagai pemenang nfografik terbaik di IDF 2019!