Pitch Competition Winner IDF 2019: Mochamad Nur Ramadhani, Dokter Gigi Penyandang Disabilitas Menggagas Aplikasi Peluang Inklusif DiFer

September 02, 2019

Drg Mochamad Nur Ramadhani penggagas aplikasi DiFer,

Pengalaman sebagai penyandang disabilitas membuat Pemenang Paparan Singkat (Pitch Competition Winner) IDF 2019, drg Mochamad Nur Ramadhani tergerak untuk membuat media bernama Difable Leader (DiFer), sebuah aplikasi layanan berbagai informasi untuk penyandang disabilitas. Paparannya dalam kompetisi ini  berjudul “Difabel Leader, A Digital Platform for People with Disabilities to Develop”.

“Jadi, informasi dalam Difabel Leader bukan hanya lowongan kerja, tapi ada opsi karier selain kerja sebagai karyawan, ada wirausaha, beasiswa pendidikan tinggi, kesempatan menjadi atlet, dan lain-lain sesuai minat, bakat, latar belakang pendidikan, jenis kelamin, serta tempat tinggal,” kata Dhani, begitu ia biasa disapa.

Dhani, adalah Dokter Gigi di CV. Wijaya Medika. Ia lulus dari Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran. Ia mengalami disabilitas akibat kanker tulang dan harus menjalani amputasi pada kaki kanan saat masih SMA. Selepas itu, Dhani fokus untuk menekuni bidang akademik, mengikuti berbagai kegiatan karya ilmiah, dan sempat menjadi atlet paralimpik renang.

Aplikasi DiFer yang dikembangkan Dhani nantinya dapat diakses setiap difabel di Google Play dan Apple App Store. Diharapkan DiFer bisa membantu memenuhi informasi yang dibutuhkan penyandang disabilitas, baik untuk kebutuhan pekerjaan maupun kebutuhan sehari-hari, sehingga mereka bisa mandiri dan produktif.

“Ya, untuk memenuhi seluruh kebutuhan informasi bagi penyandang disabilitas untuk menjaga produktivitasnya, baik dirinya sendiri dan keluarganya,” tambahnya.

Lebih dari itu, Dhani ingin DiFer berkontribusi besar dalam menanamkan dan mengimplementasikan nilai-nilai kepemimpinan bagi para penyandang disabilitas.  

Satu Aplikasi untuk Beragam Informasi Disabilitas

Untuk bisa mencapai tujuan di atas, Dhani menjelaskan aplikasi DiFer dirancang agar bisa memberikan informasi lengkap. Ia menambahkan, saat ini sudah ada beberapa platform yang membantu pencarian kerja bagi penyandang disabilitas. 

“Seperti kerjabilitas.com atau difabel.id, kemungkinan bisa kita upayakan sebagai kolaborator dari aplikasi ini,” kata Dhani.

Informasi yang ditampilkan akan disesuaikan dengan derajat disabilitas pengguna, terkait usia, jenis kelamin, minat, bakat, dan domisili.  Dhani ingin menyelaraskan data tentang penyandang disabilitas secara akurat.

“Upaya ini juga untuk mendorong keberhasilan kebijakan pemerintah terkait pembinaan dan pelatihan untuk disabilitas,” tambahnya.

Contohnya, untuk usia sekolah, DiFer ingin mendorong minimal sekolah sampai SMA atau SMK. Langkahnya antara lain dengan memberi informasi terkait sekolah yang menerapkan sistem inklusi, termasuk fasilitas di dalamnya. 

Selain terkait pekerjaan, DiFer memuat informasi pendidikan dan kewirausahaan. DiFer juga melengkapi informasi seputar asuransi kesehatan, transportasi, alat bantu gerak, hingga fasilitas inklusif lainnya.

“Misalnya, menginformasikan rumah sakit mana yang punya fasilitas inklusi. Gedung atau mall mana saja yang juga punya fasilitas ramah disabilitas,” Dhani mencontohkan.

Aplikasi ini juga akan menyediakan kolom khusus untuk membina emosional dan spiritual para pengguna. Fitur ini terhubung langsung dengan administrator utama di tingkat nasional.

“Para difabel-leader dapat menceritakan permasalahan hidup yang dihadapi sehari-hari untuk diberikan feedback motivasi agar tidak mudah menyerah dalam segala persoalan,” tambahnya.

Menurutnya, semua informasi tersebut akan berpengaruh pada produktivitas para penyandang disabilitas. Kelengkapan identitas yang diberikan setiap pengguna dapat memberikan notifikasi pada ponsel sesuai dengan informasi yang dicari.

Dalam gelaran IDF 2019, Dhani mengaku banyak mendapat masukan. Dhani juga bertemu dengan perwakilan Kementerian Sosial. Menurutnya, Kementerian Sosial telah memberi lampu hijau untuk membantu menyuplai data.

“Saya bertemu dengan banyak orang yang bisa memajukan aplikasi. Ada dari komunitas penyandang disabilitas, komunitas olahraga, barista penyandang disabilitas, mereka memberi masukan apa saja yang harus ada di aplikasi,” tambahnya.

 

Membuka Kolaborasi Berbagai Pihak

Dhani mengakui pembuatan aplikasi butuh proses yang sangat lama dan butuh kolaborasi dengan berbagai pihak.

 “Aplikasi ini masih terus dirancang, saya masih mencari investor karena saya terbatas secara pendanaan,” katanya.

Dhani menegaskan DiFer adalah aplikasi untuk tujuan sosial sepenuhnya.

“Maunya pure sosial, saya inginnya diambil alih pemerintah sehingga tujuan sosial sepenuhnya tercapai. Saya tidak mau ambil profit komersial apa pun dari sini,” tegasnya.

Paparan singkat dokter gigi sekaligus penyandang disabilitas ini membahas Sub-Tema 7, Mengembangkan Talenta dan Pasar Lokal. Pada acara IDF 2019, Ramadhani tampil di Sesi Ideas and Innovation Marketplace, Co-creating and Collaboration,  pada 22 Juli. Upaya Dhani memperjuangkan DiFer untuk membantu penyandang disabilitas sejalan dengan tema besar IDF 2019 Mission Possible: Memanfaatkan Peluang Pekerjaan Masa Depan untuk Mendorong Pertumbuhan Inklusif.”

Selamat buat Dhani dan semoga aplikasi DiFer bisa segera diwujudkan! Ada yang mau berkolaborasi?