Pemenang Pertunjukkan Seni Budaya IDF 2019: Nanik Indarti Melawan Diskriminasi Tubuh Mini Lewat Seni

August 27, 2019

Nanik Indarti, kedua dari kiri dalam karya pertunjukan "Sepatu yang Sama Kisah Jiwa dan Angka".

Pemenang Kategori Pertunjukkan Seni atau Budaya (Art/Culture Performance) Indonesia Development Forum (IDF) 2019, Nanik Indarti menjadikan seni untuk melawan diskriminasi terhadap orang bertubuh mini atau penyandang achondroplasia. Nanik menerima penghargaan dari Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro pada Penutupan IDF 2019 pada 23 Juli.

“Pemberdayaan melalui seni menjadi cara yang luwes untuk menyampaikan kritik kepada masyarakat bahwa keterbatasan fisik bukanlah sesuatu yang harus selalu didiskriminasi, di-bully, dan dieksploitasi,” kata Nanik penyandang achondroplasia yang berprofesi sebagai seniman ini. 

Nanik Indarti, Founder Unique Project, yaitu komunitas seni di Yogyakarta yang merupakan sekumpulan  orang bertubuh mini  dari berbagai wilayah dan memiliki beragam profesi (guru, dosen, seniman, mahasiswa). Unique Project  menciptakan ruang bersama melalui media seni sebagai upaya pemberdayaan terhadap orang-orang bertubuh mini  atau penyandang achondroplasia di Indonesia. Nanik lahir di Bantul dan lulus sarjana Seni Teater ISI Yogyakarta. Dia aktif dalam produksi-produksi seni pertunjukan di beberapa komunitas seni di Yogyakarta. Nanik pernah belajar dan bekerja di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja. Pada 2017, ia memilih bekerja secara independen sebagai pekerja seni dan menolak eksploitasi terhadap pekerja seni bertubuh mini dalam industri hiburan. Pada 2018, Nanik menjadi salah satu peraih hibah seni perempuan yang diselenggarakan oleh Cipta Media Ekspresi, Wikimedia Indonesia.

Nanik mengatakan industri hiburan menjadi pilihan akhir bagi orang-orang bertubuh mini, karena mereka tidak memiliki akses di lapangan pekerjaan lain. "Ukuran tubuh yang tidak sesuai standar menjadi  salah satu persoalan utama di dunia kerja, sehingga industri hiburan menjadi tujuan akhir bagi mereka yang tidak memiliki akses profesi lainnya, “tambahnya.

Meski demikian katanya, di industri hiburan pun mereka tak jarang mendapatkan perlakuan kurang baik.

“Banyak kasus dari teman-teman mini yang tidak dibayar, mendapatkan bayaran kecil, dan hanya menjadi produk yang dieksploitasi,” lanjut Nanik.

Nanik memilih teater sebagai saluran untuk berkarya. Bagi Nanik, pertunjukan teater menjadi cara yang tepat sebagai daya ungkap ekspresi untuk membicarakan persoalan-persoalan yang dialami penyandang achondroplasia. Persoalan itu antara lain diskriminasi   di berbagai aspek di dunia kerja, pendidikan, fasilitas publik, kesehatan.

Kisah-kisah Diskriminasi terhadap Orang Bertubuh Mini

Menurut Nanik, banyak penyandang achondroplasia yang kesulitan mengakses pendidikan. Dengan pendidikan rendah, lapangan kerja yang tersedia menjadi sangat terbatas.

“Karena beberapa sekolah tidak mau menerima orang-orang bertubuh mini, banyak yang tidak mau sekolah. Lalu bagaimana mereka dapat memaksimalkan potensi diri? Banyak kasus yang saya jumpai sebagian besar teman-teman bertubuh mini berpendidikan rendah,” lanjutnya.

Kata Nanik, jika pun penyandang tubuh mini masuk ke sekolah, tak jarang mereka dirisak. Tekanan ini  yang membuat orang bertubuh mini malu dan minder hingga kehilangan kepercayaan diri.  Ia mengisahkan kasus yang dialami orang bertubuh mini di Solo, Jawa Tengah.

“Ketika masuk SD, banyak para orang tua siswa tidak menyukai keberadaannya. Para orangtua siswa pun menghadap kepala sekolah. Buruknya lagi, Kepala sekolah tersebut mengeluarkan teman saya dan menyarankan pindah ke Sekolah Luar Biasa (SLB),” tuturnya. 

Sementara di dunia kerja, orang-orang bertubuh mini selain sulit mengakses lapangan pekerjaan, karena bertubuh pendek, mereka juga dianggap tidak mampu. Ada kisah seorang dosen bertubuh mini, pertama kali mengajar menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi di Kalimantan. Tapi, dia mendapatkan pelecehan verbal oleh dosen lain karena dianggap tidak bisa mengajar. Namun, dia  bisa membuktikan bisa mengajar dengan baik, bahkan menjadi dosen favorit.

“Di dunia pendidikan yang kita anggap dapat mendidik dengan baik pun masih memiliki kesadaran yang rendah terhadap penilaian kondisi fisik orang lain dan bukan pada potensi yang dimiliki,” tambahnya.

Nanik juga menyoroti sulitnya mereka mengakses fasilitas umum. Sebagai contoh, loket-loket di layanan publik dibangun lebih tinggi. 

Ia berharap ke depan lembaga pendidikan memberikan akses seluas-luasnya dan kesempatan yang sama bagi penyandang tubuh mini melalui pendidikan inklusi.

“Misalnya, memperoleh dukungan dalam sistem belajar mengajar, bisa mendapat beasiswa, forum pertukaran pelajar, dan lain-lain,” lanjut Nanik.

Begitu pun di dunia kerja, pemerintah maupun pemberi kerja bisa memberikan pelatihan di tiap wilayah yang bisa dijangkau. Dengan kesempatan yang sama, orang bertubuh mini bisa menunjukkan potensinya.

Orang-orang mini penyandang achondroplasia di Indonesia juga memiliki kemampuan yang sama seperti orang lain. Banyak dari kami yang jadi dosen, penari, koreografer,guru, staf gereja, penari, pantomimer, seniman  dan lain lain,” jelasnya.

Nanik dan Pesan dalam Karyanya

“Aku Perempuan Unik” adalah karya tulis perdananya yang mengisahkan kehidupan tujuh perempuan bertubuh mini di Indonesia. Dalam buku itu, Nanik menuliskan kisah hidup orang-orang mini, saat dirisak, dieksploitasi, mendapatkan diskriminasi hingga menemukan jati diri, menjadi sosok yang kuat, ikhlas, dan bisa menerima kondisi fisiknya.

“Bahwa menjadi kami yang bertubuh mini, tidaklah mudah. Proses panjang yang kami jalani adalah pengalaman hidup yang berharga. Bahwa kita sama, tapi kalian tak menganggap kami sama,” lanjutnya.

Karyanya yang lain adalah pertunjukan seni  berjudul “Sepatu yang Sama Kisah Jiwa dan Angka”.  Lewat karya itu Nanik melontarkan kritik terhadap stigma masyarakat kepada orang-orang bertubuh mini.

“Mereka memberi label bahwa orang-orang bertubuh mini tidak bisa menjadi apa-apa. Kritik ini ditujukan kepada masyarakat luas untuk lebih menghargai orang-orang bertubuh mini bahwa memandang seseorang jangan melihat dari ukuran tubuhnya, tapi lihatlah apa yang bisa dia lakukan. Bahwa kita sama, hanya ukuran saja yang berbeda,” papar Nanik lagi.

Karya pertunjukan berjudul “Sepatu yang Sama Kisah Jiwa dan Angka” tampil dalam Sesi Ideas and Innovations Marketplace - Connecting for Scaling Up.  Perjuangan Nanik melawan diskriminasi lewat seni, menyerukan pendidikan inklusi, dan mendorong perlakuan setara di dunia kerja bagi orang-orang mini, sejalan dengan nilai-nilai dan prinsip penyelenggaraan IDF 2019 yang memiliki tema besar “Mission Possible: Memanfaatkan Peluang Pekerjaan Masa Depan untuk Mendorong Pertumbuhan Inklusif”. 

Selamat untuk Nanik yang telah memenangkan Kompetisi Pertunjukan Seni Budaya di IDF 2019!