2019: Dari Desa Ngadiprono Sampai Jailolo, Mengembangkan Kreativitas Talenta dan Pasar IDF Lokal

August 08, 2019

Sesi Innovate Accelerating Structural Transformation.

Siapa sangka rerimbunan bambu  tempat membuang sampah di desa bisa menjadi lokasi wisata kreatif? Itulah yang dilakukan Singgih Kartono bersama dengan Komunitas Spedagi. Mengusung Pasar Papringan, Spedagi mendorong masyarakat Desa Ngadiprono mengenali potensi desa untuk mengembangkan ekonomi secara berkelanjutan dengan konsep pasar tradisional di areal kebun bambu.

 

Ratusan keluarga dilibatkan aktif dalam Pasar Papringan hingga mengembangkan produk berbasis bambu. Selain bertani dan berkebun, sekarang mereka berjualan, mengelola parkir, menyewakan homestay, dan lain-lain sehingga mendapatkan penghasilan tambahan.

 

Singgih Kartono membagikan praktik baik Komunitas Spedagi dalam Sesi Imagine “Developing Local Talent and Local Market” di Indonesia Development Forum (IDF) 2019 pada 22-23 Juli 2019. IDF 2019 dengan tema besar “Mission Possible: Memanfaatkan Peluang Kerja Masa Depan untuk Mendorong Pertumbuhan Inklusif”, mengangkat Sub-tema 7 Mengembangkan Talenta dan Pasar Lokal sebagai salah satu fokus diskusi.

 

Pengembangan  talenta dan pasar lokal ini selaras dengan arahan dan amanat Presiden Republik Indonesia Joko Widodo untuk menggali dan mendorong pemanfaatan potensi-potensi unggulan daerah yang pada akhirnya akan berdampak positif terhadap roda perekonomian nasional. Itu sebab, saat ini pengembangan potensi daerah menjadi salah satu fokus pembangunan Pemerintah untuk menggenjot produktivitas serta kemampuan ekonomi daerah.

 

Dalam siaran persnya, Bappenas menyebut Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2018 menunjukkan bahwa satu dari empat penduduk Indonesia pemuda berumur 16 sampai 30 tahun. Namun, lebih dari separuh pemuda terkonsentrasi di Pulau Jawa sebanyak 55,53 persen dengan alasan mengejar pendidikan yang berkualitas lebih baik dan peluang kerja lebih luas. Untuk mengatasi hal itu, kolaborasi antara daerah perkotaan dan perdesaan menjadi salah satu kunci pemerataan.

 

Pendiri Spedagi, Singgih Kartono  menekankan peran penting kolaborasi berbagai pihak.

 

“Pemerintah nggak bisa bekerja sendiri, komunitas akan mengambil peran yang sangat kuat. Makanya, saya membuat sepeda bambu ini sebagai sebuah creative movement for village revitalization karena desa itu sebenarnya komunitas paling keren dan saya percaya bahwa desa itu masa depan,” urainya. 

 

Gita Syahrini, Executive Director, Knowledge Center, Lingkar Temu Kabupaten Lestari dalam Sesi Ideas and Innovations Marketplace - Capturing and Sharing Knowledge juga mendukung langkah kolaborasi yang perlu dirumuskan.

 

“Kolaborasi dan kreativitas mendorong pemerintah daerah untuk meningkatkan daya saing daerahnya. Lingkar Temu menginisiasi pemerintah lokal untuk membuat report sebagai amunisi untuk bekerja sama dengan stakeholder parties lainnya,” kata Gita.

 

Terkait pemanfaatannya, Singgih mengatakan perlu mengerahkan sumber daya eksternal ke dusun untuk membantu masyarakat setempat dan pemangku kepentingan lainnya, sehingga kolaborasi tersebut tercipta untuk pelestarian desa.

 

Local itu harus open dan connected, ini merupakan konsep yang dipakai Spedagi dengan menggabungkan city dan rural untuk membuktikan desa juga mampu untuk bergerak dan berinovasi,” tambah Singgih.

 

 

Kreativitas Daerah Mengelola Sumber Daya Lokal

 

Praktik baik pengembangan potensi daerah lainnya datang dari salah satu sektor yang dianggap paling menjanjikan saat ini, yaitu pariwisata. Sektor pariwisata yang berkembang dalam suatu daerah secara langsung dan tidak langsung memberikan peluang kerja baru untuk masyarakat daerah tersebut.

 

Dalam pengembangannya, sektor pariwisata membutuhkan pembangunan infrastruktur fisik dan infrastruktur sosial. Masyarakat perlu dibentuk agar siap menjadi masyarakat wisata dan mampu memberikan efek pengganda (multiplier effect) terhadap sektor-sektor lainnya.

 

“Nilai sosial budaya itu sudah mulai ditinggalkan, gotong royong ditinggal. Ini menjadi persoalan,” kata Kepala Desa Pujon Kidul, Kabupaten Malang, Udi Hartoko yang membagikan praktik baik pemerintah desanya dalam menggerakkan warganya untuk pariwisata lokal desa.

 

Di desanya, ia lantas menggerakkan semua elemen, mulai kelompok LPAD, kelompok tani, kelompok ternak, PKK, Kelompok Sadar Wisata untuk bersama-bersama mengelola potensi yang ada di desa.

 

“Prinsip kami, masyarakat sebagai pemilik, pelaku, dan penolak. Seluruhnya adalah masyarakat desa,” tambahnya.

 

Pelibatan  masyarakat  ditujukan terutama kepada generasi penerus.

 

“Yang dulu mereka itu menjadi masalah di masyarakat, sekarang mereka menjadi pionir-pionir untuk menyelesaikan masalah-masalah itu yang ada di masyarakat. Dulu, mereka dipandang sebelah mata, sekarang mereka menjadi penggerak-penggerak sosial,” lanjutnya.

 

Pengembangan potensi daerah melalui pariwisata lokal juga dipaparkan Monitta Putri Lisa Mary, salah satu pemenang Pengajuan Proposal (Call for Submission) IDF 2019, dengan menggunakan studi kasus ecotourism Kabupaten Banyuwangi.

 

“Pemerintah daerah dapat menjadi pengatur antara leakage dan linkage, di mana pemerintah daerah mampu mengelola melalui regulasi,” kata Monita.

 

Menurut Monita, faktor yang dapat menyaring tenaga kerja lokal dari pariwisata  yakni kepemilikan oleh masyarakat lokal, kemampuan untuk menghubungkan antara industri setempat dan pariwisata, serta merangsang pariwisata lewat festival dan penyelenggaraan acara.

 

“Dengan memprioritaskan pariwisata, kita seharusnya memprioritaskan masyarakat sehingga ekonomi dapat menetes ke bawah dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat,” lanjut Monitta.

 

Dalam Sesi Ideas and Innovation Marketplace, Co-creating and Collaborating, Petra Karetji, Founder Plakarika dari Creative Hub bercerita sedang mengupayakan pengembangan talenta lokal di Halmahera, Maluku. Menurut Petra, pekerjaan di luar Jawa masih cukup besar, termasuk di Halmahera.

 

"Melalui Plakarika, ingin menciptakan ruang kreatif bagi komunitas lokal agar mendorong interaksi inovatif, berangkat dari kekuatan alam dan budaya Jailolo,” katanya. 

 

Budaya Jailolo yang disebut Petra bermotto, "Meski kita pernah jatuh, mari bangkit bersama”.

 

Nika Pranata, Peneliti Ekonomi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia LIPI memberi contoh praktik baik yang dilakukan China. Berbicara dalam Sesi Imagine Developing Globally Competitive Micro, Small and Medium Enterprises, Nika menyebut China memberdayakan pedagang lokal dengan melibatkan pemerintah lokal.

 

“Membuat program yaitu iTaobao Village’ bekerja sama dengan  Alibaba, sehingga profit dari penjualan meningkat dan mensejahterakan penduduk lokal,” tambahnya. 

 

Taobao Village adalah desa yang terkait dengan program Rural Taobao dari perusahaan e-commerce raksasa di China, Alibaba Group.

 

IDF 2019 mendorong pengembangan potensi daerah dengan menghadirkan para talenta lokal dari berbagai potensi di perhelatan yang berlangsung 22-23 Juli lalu. Tujuannya antara lain agar bisnis dan pemerintah daerah dapat bekerja bersama untuk mengembangkan pasar lokal, juga agar  bisnis lokal lebih kompetitif secara global, serta  Keterampilan dan kompetensi yang dibutuhkan untuk mendukung pengembangan ekonomi lokal dapat dikembangkan.