Dari Investasi Pertanian Hingga Tradisi Lokal di NTT, Mengenal Pemenang Kompetisi IDF 2019

August 07, 2019

Sebagian Pemenang IDF 2019, bersama Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro.

Indonesia Development Forum (IDF) 2019 memilih sepuluh pembicara terbaik dari berbagai kategori proposal; Makalah, Paparan Singkat, Seni atau Budaya, dan Ide. Kesepuluh pemenang tersebut mendapat penghargaan yang diserahkan langsung oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro saat Penutupan IDF, 23 Juli 2019 di Balai Sidang Jakarta Convention Centre (JCC). Tahun ini, IDF mengusung tema Mission Possible: Memanfaatkan Peluang Pekerjaan Masa Depan untuk Mendorong Pertumbuhan Inklusif. 

Terdapat tiga Pemenang Kompetisi Makalah IDF 2019 (Paper Competition Winner). Pertama, Kharisma Bintang Alghazy, anggota Tim Reformasi Regulasi Perizinan Berusaha, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Kharisma menyajikan paparan berjudul “Paket Kebijakan Ekonomi Tanaman Pangan: Solusi Perbaikan Iklim Investasi dan Penciptaan Lapangan Kerja”. Dalam presentasinya, Kharisma menyebut salah satu kebijakan strategis untuk menciptakan lapangan pekerjaan adalah mendorong partisipasi penanaman modal atau investasi dengan lebih dahulu memperbaiki iklim investasi, di antaranya di bidang pertanian. 

“Pemerintah harus memperhatikan sektor pertanian sebagai tempat serapan tenaga kerja warga, dan pemerintah harus menjaga iklim investasi dalam sektor pertanian," kata Kharisma pada Sesi Inspire, Improving the Investment Climate for Employment Creation. Paparan Kharisma merupakan bagian dari Sub-Tema 4 IDF 2019, Memperbaiki Iklim Investasi untuk Penciptaan Lapangan Kerja.

Kedua, Nika Pratama, Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Paparan Nika terkait Sub-Tema 5, Mengembangkan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah yang Berdaya Saing Global berjudulHow Should Government Promote Competitiveness of Indonesia's Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) in the Borderless Trade Era?” Nika memaparkan masalah, tantangan, dinamika UMKM Indonesia di era e-commerce terkait persaingan global, serta peluangnya yang belum dieksplorasi. 

“Kami melakukan survei, temuannya adalah: 90 persen pembeli tahu kalau mereka dapat berbelanja di luar negeri. Di mana hal ini merupakan salah satu keuntungan dan juga terdapat dampak negatif dari pedagang lokal,” kata Nika dalam presentasinya di Sesi Imagine, Developing Globally Competitive Micro, Small and Medium Enterprises.

 

Ketiga, Dyah Pritadrajati, konsultan di Oxford Poverty and Human Development Initiative (OPHI). Dyah membawakan paparan dari Sub-Tema 2, Reformasi Sistem Pendidikan dan Pelatihan Vokasi (TVET) untuk Pekerjaan Masa Depan. Ia tampil dengan hasil penelitian yang diberi judul “From School to Work: Does Vocational Education Improve Labour Market Outcomes?” Lewat penelitian tersebut Prita menanggapi kebijakan pemerintah tentang program perluasan pendidikan kejuruan di Indonesia.

“Lulusan kejuruan, memberi kontribusi terbesar pada pengangguran,” kata Prita yang berbicara pada sesi Innovate Reforming the Vocational Education and Training (TVET) System for Future Jobs.

 

Para  Inovator dan Kreator  Juara IDF 2019

IDF 2019 juga memilih tiga Pemenang Kompetisi Paparan Singkat (Pitch Competition Winner). Salah satu pemenang yakni Sri Widuri, Spesialis Bidang Pendidikan di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mengulas Sub-Tema 8, Meningkatkan Kualitas Modal Manusia. Paparan Singkat (pitch) Widuri berjudul “Leave No One Behind: INOVASI’s Experience in Central Lombok”. Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) merupakan program kemitraan antara pemerintah Australia dengan pemerintah Indonesia.

INOVASI menggunakan pendekatan yang disebut Problem Driven Iterative Adaptation (PDIA) dalam pendidikan inklusi di Lombok Tengah, NTB. Pengalaman INOVASI menerapkan pendekatan berbasis lokal di Lombok Tengah memberikan pelajaran penting untuk daerah lain. Sebagai contoh, pendekatan berbasis masalah lokal dilakukan bekerja sama dengan guru, kepala sekolah, masyarakat, dan Pemerintah Daerah. Widuri berbicara pada Sesi Ideas and Innovation Marketplace, Capturing and Sharing Knowledge.


Pemenang Paparan Singkat berikutnya, Mochamad Nur Ramadhani, seorang dokter gigi sekaligus penyandang disabilitas dengan bahasan terkait Sub-Tema 7, Mengembangkan Talenta dan Pasar Lokal. Ia membuat aplikasi “DiFer atau Difable Leader untuk para penyandang disabilitas mengenal, memahami, dan mengimplementasikan nilai-nilai kepemimpinan dan soft skill yang dibutuhkan di era 4.0 untuk berkarya, baik sebagai pekerja, akademisi, maupun dalam berwirausaha. Pada acara IDF 2019, Ramadhani tampil pada Sesi Ideas and Innovation Marketplace, Co-creating and Collaboration.

Yeti Yuli Astuti yang mengulas Sub-Tema 6, Membina Para Pelaku Usaha Sosial juga terpilih menjadi Pemenang Kompetisi Paparan Singkat. Ia merupakan CEO Sacita Muda, sebuah komunitas kewirausahaan sosial besutan alumni Universitas Padjajaran.

“Kami mengharapkan akademisi bisa menyumbang ilmu, korporat bisa menyumbang mentor, dan pihak-pihak lain bisa menyumbang apapun yang mereka miliki. Sehingga, ini bisa menjadi akselerator untuk membesarkan UMKM di daerah,” katanya dalam presentasi  Sesi Ideas and Innovations Marketplace, Co-creating and Collaboration.

Kategori Pertunjukkan Seni atau Budaya (Art/Culture Performance) Terbaik diraih Nanik Indarti, seniman bertubuh mini. Karya pertunjukan  berjudul “Sepatu yang Sama Kisah Jiwa dan Angka” tampil dalam Sesi Ideas and Innovations Marketplace - Connecting for Scaling Up. Ia mengisahkan orang-orang bertubuh mini di Indonesia masih sering mengalami diskriminasi, baik di dunia kerja dan maupun bidang lain.

“Selalu ditanya bisa jadi apa. Memang banyak hal sulit yang kami akses: ukuran baju, meja loket tinggi, dan lain-lain. Padahal orang-orang pendek di Indonesia memiliki kemampuan yang sama. Banyak dari kami yang jadi dosen, penari, koreografer, dan lain lain,” jelasnya.

Sementara itu, Ridhony Marisson Hasudungan Hutasoit, Kepala Subbagian Edukasi dan Perlindungan Konsumen (EPK) OJK Provinsi Sulawesi Tenggara, memenangkan kategori Kompetisi Artikel/ Blog (Article/Blog Competition).  Ridhony tampil dalam Sesi Ideas and Innovation Marketplace, Co-creating and Collaboration dengan membawakan materi “Komunitas Learning Center, Solusi Menciptakan UKM Berkualitas”. Ia mengatakan untuk mendapatkan hasil maksimal, setiap program tidak bisa lepas dari kolaborasi.

“Dalam melakukan kolaborasi, kita harus mengoptimalkan sumber daya manusia yang ada. Saya mulai ini dengan mengubah orientasi mereka bahwa masa depan yang cerah tidak hanya bisa digapai melalui menjadi PNS. PNS baik, tapi menumbuhkan jiwa entrepreneur pada mahasiswa-mahasiswa ini penting agar mereka mandiri,” kata Ridhony.

Khoirun Nisa' Sri Mumpuni, salah satu pendiri Kitong Bisa, menjadi  Pemenang Kompetisi (Video Competition Winner). Kitong Bisa Enterprise adalah wirausaha sosial yang mendidik dan memberdayakan masyarakat yang terpinggirkan di Indonesia, dengan fokus pada perempuan dan pemuda, terutama di bagian timur Indonesia untuk memiliki mata peluang kerja masa depan yang lebih baik. Pada gelaran IDF 2019, Nisa berbicara dalam Sesi Imagine Reforming the Vocational Education and Training (TVET) System for Future Jobs dengan materi berjudul “Solving Unemployment in Papua  and West Papua”.

Di kategori Kompetisi Infografik (Infographic Competition Winner), dimenangkan oleh Nyoman Sri Natih Sudhiastiningsih yang merupakan Co-Founder sekaligus CEO MENA Indonesia. MENA Indonesia berupaya membantu masyarakat mengembangkan dan memanfaatkan tradisi lokal, keterampilan, dan lingkungan alam mereka untuk meningkatkan standar kehidupan dan mengurangi kesenjangan sosial. MENA Indonesia saat ini bekerja di beberapa desa di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di perhelatan IDF 2019, Nyoman membawakan paparan berjudul “Co-design to Support Village Empowerment di  Ngada, East Nusa Tenggara”.

Nantikan artikel mengenai profil para pemenang di website IDF. Selamat untuk semua Pemenang Kompetisi IDF 2019!