Road to IDF 2019: Dari Industri Hingga Pasar Unik, Ini Cara Jawa Tengah Atasi Pengangguran

March 18, 2019

Tren pengangguran di Jawa Tengah mulai bergeser ke lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Kepala Bidang  Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jateng, Ahmad Aziz, mengatakan sebelumnya pengangguran didominasi oleh lulusan SMP ke bawah. Dilansir dari Tribun Jateng, ada 800 ribu pengangguran di Jawa Tengah. Angka tersebut didominasi oleh lulusan SMK.

"SMK kan punya keterampilan, harus kita identifikasi siapa yang mau bekerja di sektor formal dan mandiri, Dan di SMK, ada berbagai jurusan seperti otomotif dan IT. Mereka bisa bekerja ikut perusahaan sesuai bidangnya atau membuka usaha mandiri," kata Aziz akhir Februari 2019.

Azis menyebut ada sejumlah masalah yang menyebabkan angka pengangguran masih tinggi meski banyak lowongan kerja yang tersedia. Misalnya, ada missmatch (galat kelola) antara keterampilan yang dikuasai dan ketersediaan pekerjaan, ditambah lagi kekurangan dukungan infrastruktur dan fasilitas. 

"Kedua, adalah daya tarik gaji. Banyak pekerja yang menumpuk di kota-kota dengan UMR tinggi. Di Jawa Tengah, UMR tertinggi Semarang Rp 2,4 juta, kota lainnya rata rata di bawah itu. Jadi, dipastikan mereka mencari pekerjaan di kota dengan UMR tinggi," ucap Aziz.

Pemerintah Jawa Tengah fokus pada pelatihan kerja dan sertifikasi profesi untuk mengatasi pengangguran terbuka. Badan Koordinasi Sertifikasi Profesi (BKSP) Jawa Tengah berupaya memastikan keberadaan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) di Jateng semakin lengkap sehingga mampu memenuhi kebutuhan tenaga kerja.

"Lulusan SMK ini tentu membutuhkan sertifikat agar nilai jual mereka saat bekerja semakin tinggi," kata Ketua BKSP Jawa Tengah, Hertoto Basuki seperti yang dikutip dari Liputan6.com.

Beberapa pihak yang diharapkan dapat memanfaatkan LSP tersebut yakni para tenaga kerja yang belum memiliki sertifikat profesi dan lulusan SMK yang tidak berencana melanjutkan pendidikan ke tingkat perguruan tinggi.

Secara keseluruhan, Pemprov Jawa Tengah lebih menyasar ke industri padat karya. Selain garmen, industri lain yang membutuhkan banyak tenaga kerja adalah funitur. 

Industri garmen di Semarang seperti PT Sandang Asia Maju menjadi salah satu perusahaan yang banyak menyerap tenaga terampil lulusan pendidikan vokasi. Pabrik ini juga memberikan kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk bekerja. Praktik baik PT Sandang ini telah mendapat apresiasi dari Kementerian Tenaga Kerja. 

Mengikuti langkah program nasional, Jawa Tengah menggandeng sektor privat untuk mengembangkan pendidikan vokasi dan sertifikasi profesi. Salah satu perwujudan langkah ini dengan menggandeng Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit GmbH (GIZ) Indonesia dan Kadin Jerman. 

Dikutip dari Suara Merdeka pada pertengahan Februari 2019, Direktur Edukadin Jateng Agustina Devi mengatakan pihaknya sudah hampir 20 tahun bekerja sama dengan IHK (Kadin) Jerman. Berawal dengan IHK Konstanz dalam peningkatan kapasitas Kadin Jateng sebagai organisasi dunia usaha dan dunia industri. Kemudian, bekerjasama dengan IHK Trier dalam pengembangan vokasi sistem ganda yang bertujuan mencetak tenaga-tenaga terampil dan kompeten yang siap masuk ke dunia industri.

Kerja Layak dari Desa, Cegah Urbanisasi

Tingginya upah minimum di Semarang menyebabkan tenaga kerja daerah lain di Jawa tengah memilih berbondong-bondong ke ibu kota provinsi. Mengatasi ini, perwujudan kerja layak di desa menjadi solusi mengatasi urbanisasi. Misalnya seperti yang terjadi di Dusun Ngadiprono, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Tedu, Kabupaten Temanggung.

Pasar Papringan yang berada di wilayah ini membuka lapangan kerja sehingga warga Ngadiprono tak perlu ke kota. Pasar berwawasan edukasi ini menjadi magnet pariwisata seraya melesetarikan lingkungan. Ketua Komunitas Mata Air Ngadiprono, Imam Abdul Rofiq mengatakan transaksi sekitar Rp200 juta berputar di Pasar Papringan tiap bulan. Ada seratusan warga desa terlibat langsung, dan ribuan orang dari luar daerah mengunjungi Ngadiprono tiap bulan.

Pasar Papringan yang menempati kebun bambu seluas 2.500-an meter persegi ini kini menambah area untuk taman bambu seluas 3,5 hektar. Gunung Koang, sebutan warga untuk bukit kecil itu kini dipercantik dengan jalan trasah yang menjadi bagian konservasi kebun bambu Pasar Papringan. Jalan trasah yang sesuai dengan kondisi perdesaan ini dibangun masyarakat secara gotong royong dengan material lokal dan mampu menyerap air.  

Dikutip dari Mongabay Indonesia, Bukit Koang banyak ditumbuhi bambu, kopi, dan tanaman perkebunan lain namun selama ini belum terawat dan tidak produktif. Dengan bantuan Arsitek Komunitas (Arkom) Jogja, warga diajak memetakan potensi dan membuat jalan telasah—jalan yang dikeraskan dengan potongan batu atau beton.

“Warga kini memiliki data, peta kebun, dan kalender musim. Mereka sendiri yang membuat. Sebelumnya, sebagian petani tidak tahu luas kebun berapa, ditanami apa saja, berapa hasil dalam setahun,” kata Imam.

Keberhasilan Komunitas Mata Air Ngadiprono dalam mengelola Pasar Papringan menjadi salah satu praktik baik menciptakan peluang kerja inklusif. Contoh baik ini dipresentasikan di Road to Indonesia Development Forum (IDF) pada 21 Maret 2019 di Semarang. 

Imam mempresentasikan Pasar Papringan di IDF bersama pemateri lain seperti guru besar bidang ekonomi pembangunan dari Universitas Diponegoro Kesi Widjajanti, General Manager PT Sandang Asia Maju Abadi Dedi Mulyadi, Team Leader Ready to Work Accelarator Program Toto Purwantoro, dan Rudy Sjumali dari GIZ Indonesia. 

Road to IDF yang digelar oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) juga menghadirkan perwakilan Provinsi Jawa Tengah yang fokus pada pendidikan vokasi dan sertifikasi profesi yakni Ketua Badan Koordinasi Sertifikasi Kompetensi Jateng Hertoto Basuki. 

Mereka duduk bersama dengan peserta diskusi panel untuk merumuskan gagasan kebijakan mengenai kerja layak. Hasilnya, akan di tampilkan di salah satu sesi IDF pada 22-23 Juli 2019 di Jakarta. Ayo bergabung dan berikan gagasanmu di Road to IDF Kota Semarang, Jawa Tengah!  **