• Eliza Barokah
    Eliza Barokah
    Lulusan Teknologi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia. Pernah mengajar di SD & TK. Memiliki minat yang tinggi pada bidang pendidikan dan pengembangan asyarakat. Aktif di berbagai komunitas parenting. Sekarang sedang fokus merintis edundu.com

Optimalisasi Program Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif

June 12, 2018

Kualitas sumber daya manusia merupakan salah satu aspek yang memiliki peran vital terhadap keberhasilan pembangunan. Upaya peningkatan kualitas SDM perlu dilaksanakan sejak dini baik dari segi kesehatan maupun pendidikan. Pada di seribu hari pertama anak dan fase emas atau yang biasa disebut golden age yang merupakan periode sangat penting dan membutuhkan pelayanan kesehatan dan pendidikan yang maksimal. Karena upaya pembangunan suatu bangsa akan sangat membutuhkan individu-individu yang sehat fisik, mental, cerdas, berakhlak mulia dan berdaya saing tinggi.

Dalam upaya pemenuhan kebutuhan dasar tersebut, pemerintah telah memfasilitasi beberapa program seperti POSYANDU yang berupaya memberikan pelayanan kesehatan dasar, serta pendidikan anak usia dini (PAUD) &  program bina keluarga balita (BKB) yang berfokus pada ranah pendidikan dan pengasuhan anak.

Ketiga program ini terus melakukan perbaikan dari yang awalnya berjalan sendiri-sendiri hingga adanya keterpaduan program POSYANDU dengan PAUD dan BKB sesuai Peraturan Presiden Nomor 60 Tahun 2013 tentang Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif. Kebijakan tersebut menekankan bahwa setiap anak harus mendapatkan pelayanan kesehatan, gizi, perawatan, perlindungan, rangsangan pendidikan secara berkesinambungan sejak janin sampai usia 6 tahun dengan sistem pelayanan menyeluruh dan terintegrasi.

Pengintegrasian POSYANDU dengan BKB dan PAUD ini memiliki peran penting dan strategis dalam upaya #AtasiKesenjangan karena terlibat langsung dalam upaya meningkatkan kesejahteraan orangtua dan anak dalam berbagai aspek. Posyandu memantau kesehatan ibu dan anak, PAUD memfasilitasi balita bermain dan belajar bersama yang dibimbing oleh mentor/guru PAUD, sementara BKB memberikan ruang untuk orangtua menggali pengetahuan dan keterampilan mengenai pengasuhan anak yang baik. Hal ini membawa harapan agar orangtua dan anak memiliki wadah untuk memantau dan menstimulasi tumbuh kembang anak secara optimal.

Namun  implementasi ketiga program ini masih mengalami kendala, khususnya program Bina Keluarga balita yang pelaksanaannya kurang begitu eksis di masyarakat. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh BKKBN dalam websitenya; “Berdasarkan data Pengendalian Lapangan (Dalap BKKBN) bulan Desember 2017 jumlah keluarga yang mengikuti kegiatan BKB sejumlah 3.023.926 keluarga (63.88%) dari sasaran 7.408.983 keluarga. Dari sejumlah data tersebut, belum semua kelompok BKB yang menjalankan keterpaduan dengan kegiatan Posyandu dan PAUD. Kinerja program BKB dan Anak saat ini masih membutuhkan perhatian dan komitmen dari para pengelola program BKB, baik dari tingkat pusat hingga tingkat desa”.

Perhatian terhadap program BKB ini perlu ditingkatkan karena seperti yang kita ketahui orangtua berada di garda terdepan pertumbuhan dan perkembangan anak. Peran orangtua dan keluarga dalam mendidik anak tidak dapat tergantikan oleh sekolah dengan kualitas terbaik sekalipun. Begitu kuatnya peran orangtua dalam pendidikan anak, hingga disebut sebagai lingkungan pendidikan pertama dan utama.

Padahal, jika terimplementasikan dengan baik, program BKB ini dapat menjembatani orangtua & anak-anak usia dini dari keluarga prasejahtera untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan seputar pendidikan anak/parenting, karena mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan akan pendidikan secara mandiri, seperti layaknya keluarga dari ekonomi menengah ke atas yang memiliki akses untuk mengupgrade ilmu pengasuhan anak melalui seminar atau workshop, konsultasi dengan pakar dll. Sementara di kegiatan POSYANDU pun masih minim kegiatan penyuluhan untuk orangtua secara mendalam, karna biasanya lebih terfokus pada pencatatan dan pelaporan. 

Masalah lain  selain angka partisipasi peserta BKB, yaitu kompetensi kader BKB itu sendiri yang mempunyai peran vital seperti yang disebutkan rinci dalam Buku Panduan Pelaksanaan kegiatan BKB Terintergrasi yang di publikasikan BKKBN, terkait tugas administratif, penyedia layanan konseling, penyuluhan,dan lain-lain.

Hasil Evaluasi Kinerja Program Bina Keluarga Balita (BKB) di Kelompok BKB Mekar Sari 2 Kelurahan Pedurungan Kidul Kecamatan Pedurungan Kota Semarang dapat kita jadikan contoh gambaran mengenai bagaimana pelaksanaan BKB di lapangan yang menyebutkan bahwa  peran yang sangat vital tidak diikuti dengan pelatihan yang mumpuni dari Bapermasper & KB sebagai SKPD yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan BKB. Hanya 2 orang kader kecamatan tiap tahunnya yang menerima pelatihan.

Untuk mengatasi kendala kurangnya partisipasi peserta BKB dan kompetensi kader dan sarana konsultasi dan sharing antar anggota yang belum optimal dapat dilakukan melalui strategi sebagai berikut:

1. Pemanfaatan Teknologi

Salah satu faktor dari kurangnya partisipasi peserta dalam kegiatan BKB dilatarbelakangi oleh adanya kesibukan bekerja, mengurus rumah tangga serta minimnya motivasi. Pemanfaatan teknologi dengan membuat forum online  dapat menjadi solusi, dimana para peserta & kader yang memiliki akses internet dapat dengan leluasa mendayagunakan aplikasi messenger di smart phone nya untuk berinteraksi satu sama lain dengan lebih luwes dan berbagi dokumen penunjang kegiatan, seperti artikel, modul materi,  media pembelajaran yang dapat dikembangkan orangtua dirumah dll. Selain itu, forum online tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghubungkan peserta, kader dan tim ahli yang diundang untuk mengoptimalkan proses konsultasi tumbuh kembang anak.

Pelatihan kader pun dapat dilakukan secara online melalui sistem pembelajaran jarak jauh sebagai upaya memudahkan kordinasi, menghemat biaya akomodasi dan menciptakan iklim pelatihan yang berkesinambungan dengan mudah untuk meningkatkan kualitas kader sebagai penyediaan layanan dasar.

2. Pengayaan Materi dan Media Pembelajaran/Alat Permainan Edukatif Penunjang

BKKBN sudah melakukan upaya pemanfaatan teknologi dengan membuat aplikasi yang dapat di unduh di playstore bernama “Menjadi Orangtua Hebat”, berisi modul, buku, leaflet serta video panduan yang bisa digunakan orangtua maupun pedoman presentasi untuk penyuluhan.

Sebagai seorang warga Indonesia, saya pun sedang berupaya memberikan kontribusi membantu keterlaksanaan program pengembangan anak usia dini dengan membuat suatu gerakan “belajar jadi orangtua”, yaitu forum diskusi mengenai pendidikan anak bagi pasangan usia subur/calon orangtua, orangtua yang memiliki anak usia 0-6 tahun. Dan membuat website yang berisi artikel pengenai pengasuhan anak, dan berbagi media pembelajaran gratis yang dapat diunduh & dimanfaatkan untuk mendampingi kegiatan belajar anak yang menyenangkan. Meski masih dalam tahap pengembangan dan perbaikan, semoga langkah kecil ini memberikan dampak positif bagi berbagai pihak.

3. Mengoptimalkan Peran Serta Masyarakat Seperti komunitas, Organisasi Profesi, LSM dan Pelaku Usaha

Penyuluhan secara tatap muka pun masih diperlukan untuk memfasilitasi pihak-pihak yang tidak terjangkau oleh internet. Kita dapat berkordinasi dengan pihak praktisi ataupun ahli di bidang pendidikan dan kesehatan anak sebagai fasilitator/tim ahli. Serta bekerjasama dengan pelaku usaha untuk membantu mendanai biaya operasional yang tidak tertutupi pemerintah  melalui bantuan dana CSR nya.

Optimalisasi program pengembangan anak usia dini holistik integratif melalui peningkatan SDM penyedia layanan, pemanfaatan teknologi serta memaksimalkan kerja sama dengan berbagai pihak diharapkan mampu menjadi solusi meningkatkan mutu dan pemerataan kualitas SDM di berbagai wilayah.

Sumber Informasi:

Peraturan Presiden No 60 Tahun 2013. Pengembangan Anak Usia dini Holistik Integratif. 

Tingkatkan kualitas pengasuhan keluarga, BKKBN bentuk BKB holistik Integratif. 28 MEI 2018.https://www.bkkbn.go.id [Online: Diakses Juni 2018]

Dwi Muhammad Furqon, Kismartini, Fathurrohman. Evaluasi Kinerja Program Bina Keluarga Balita (BKB) di Kelompok BKB Mekar Sari 2 Kelurahan Pedurungan Kidul Kecamatan Pedurungan Kota Semarang. http://download.portalgaruda.org

Buku Panduan Pelaksanaan Kegiatan BKB Yang Terintegrasi Dalam Rangka Penyelenggaraan Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif. BKKBN: Jakarta (2013).


 


Komentar
  • Generic placeholder image
    Elsa Rossalina - 12 Jun 2018 10:34
    Artikelnya sangat menarik
  • Generic placeholder image
    asep kusmana - 12 Jun 2018 10:55
    cukup aplikatif, dan sesuai kondisi di lapangan. Semangat terus untuk selalu berkontribusi.
  • Generic placeholder image
    asep kusmana - 12 Jun 2018 11:02
    orangtua adalah madrasah pertama, mningkatkan kualitas pendidikan ,kesehatan dan kualitas orangtua dalam pengasuhan akan memberikan dampak positif bagi pembangunan negara. good job!
  • Generic placeholder image
    Deri Syaeful Rohman - 12 Jun 2018 12:27
    Ulasan blog yang menarik..tadinya mau komentar di kolom komentar, namun alangkah baiknya jika secara pribadi saja. Apa yang kamu bikin sebenarnya itu action plan semua kan ya..nah pengalamanku di Unesco mungkin bisa di adopt..alangkah lebih bagus jika segala action plan dari kita selaras dengan kerangka global SDGs (karena Bappenas kepanjangan tangan dari kerangka SDGs ini agar bisa implementable di masing masing negara). Jadi singkatnya, isu pertama yang diangkat bagusnya isu global dulu dari SDGs..dimana ada 17 goals didalamnya dengan beberapa indikator yang terukur..nah darisana pilah mana action yang ada hubungannya dengan pengembangan SDM, khususnya keluarga..nanti kamu bisa dapatkan action plan yang tidak hanya bersifat lokal..namun juga global..dan ini sebetulnya masukan bagi masing masing negara untuk bisa me revisi dari SDGs kemudian hari..semoga bermanfaat el.
  • Success!
    Failed!