Kewirausahaan Sosial, Peluang Pemuda Mampu Raup Rp19,4 Milliar

February 07, 2019

CEO Du'Anyam Azalea Ayuningtyas (dua dari kanan) seusai mengisi materi di Indonesia Development Forum 2018.

Lima tahun terakhir ini, kewirausahaan sosial di Indonesia tumbuh berkembang di bidang industri kreatif, pertanian, dan pendidikan. Berdasarkan hasil penelitian Komisi Ekonomi dan Sosial untuk Asia dan Pasifik Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCAP) dan British Council, ada 80-an usaha sosial yang telah mapan di tahun 2017, jauh meningkat dibanding lima tahun sebelumnya yang hanya sepuluh bisnis yang telah mapan di sektor ini. Tiga bidang yang paling diminati di sektor usaha sosial adalah industri kreatif (22 persen), agrikultur dan perikanan (16 persen), serta pendidikan (15 persen).

 


Berbeda dengan jenis usaha lain, kewirausahaan sosial membuka peluang inklusif dan kesetaraan sebagai inti bisnis dengan misi sosial. Kewirausahaan sosial bekerja bersama komunitas termarjinalkan dan kelompok minoritas seperti perempuan dan penyandang disabilitas. 

“Cara kerja kewirausahaan sosial ini menjadi solusi mengatasi kemiskinan dan distribusi kekayaan yang tidak merata di Indonesia,” kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro, dikutip dari sambutan di publikasi Developing an Inclusive and Creative Economy: The State of Social Enterprise in Indonesia yang diterbitkan oleh British Council bersama UNESCAP pada 2019. 

Akhir-akhir ini, tutur Bambang, wirausaha sosial tak hanya menjangkau kota-kota besar, tetapi juga beroperasi di daerah pedesaan. Karena akses dan koneksi daerah terpencil di Indonesia kian terbuka, potensi ekonomi dan daya kreatif masyarakat lokal kian menguat. Wirausaha sosial dapat memberi dampak yang signifikan terhadap perkembangan ekonomi nusantara melalui penyediaan akses kebutuhan dasar seperti energi, pendidikan, dan pangan berkelanjutan serta memberdayakan kelompok-kelompok minoritas.

Usaha sosial juga membantu pemerintah menciptakan kesetaraan peluang tenaga kerja. Data dari British Council, kepemimpinan perusahaan sosial didominasi oleh anak muda (18-34 tahun) Indonesia sebanyak 67 persen dari total keseluruhan atau 342 ribu usaha sosial yang ada. Sebanyak 40 persen dari keseluruhan usaha sosial di Indonesia dipimpin oleh perempuan.

Sektor usaha sosial juga telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam membuka jalan bagi perempuan. Sebanyak 69 persen tenaga kerja yang bekerja di sektor ini adalah perempuan. Alhasil, usaha sosial menyumbang peningkatan 99 persen karyawan perempuan pada 2016-2017 dibandingkan tahun sebelumnya.

Salah satu usaha sosial yang diinisiasi oleh perempuan muda dan memberdayakan ibu rumah tangga adalah Du’Anyam. Usaha yang memberdayakan ibu rumah tangga di Flores, Nusa Tenggara Timur, ini diinisiasi oleh tiga perempuan muda yaitu Azalea Ayuningtyas, Melia Winata, dan Hanna Keraf. Mereka berhasil meningkatkan perekonomian rumah tangga lewat anyaman lontar dan membuat perempuan lebih setara dengan suaminya. 

Baca: 
https://indonesiadevelopmentforum.com/2019/ideas/4621-duanyam-menjalin-tradisi-berdayakan-perempuan-timur  

Contoh lain usaha sosial berbasis komunitas ialah Warung Pintar. Usaha sosial ini muncul dari keresahan pendirinya saat melihat warung kelontong kalah dengan retail modern. Warung Pintar menggaet sejumlah kios kelontong tradisional menjadi warung berbasis teknologi dengan dua pilar yaitu Internet of Things (IoT/ Internet untuk Segala) dan Big Data Analytics (Analisa Mahadata). Hasil akhirnya, mitra mendapatkan omset penjualan per hari rata-rata Rp 300.000-Rp 500.000.

Baca: 
https://indonesiadevelopmentforum.com/2018/article/9278-warung-pintar-bersaing-dengan-retail-modern 

“Keberhasilan usaha-usaha sosial ini berkontribusi dalam meningkatkan Produk Domestik Bruto Indonesia sekitar 1,91 persen atau Rp 19,4 Miliar,” tutur Menteri Bambang.

Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro mengakui kewirausahaan sosial berhasil menempatkan inklusivitas sebagai inti dari pembangunan ekonomi. Sektor ini menyediakan platform yang sama untuk pedesaan dan perkotaan sehingga dua daerah yang berbeda ini dapat saling berkolaborasi menciptakan produk kreatif. 

Melihat potensi kewirausahaan sosial bagi penyediaan lapangan kerja yang inklusif, Bappenas mendorong ide atau gagasan dari banyak pihak lewat Indonesia Development Forum (IDF) 2019. Konferensi internasional dengan tajuk “Mission Possible: Memanfaatkan Peluang Pekerjaan Masa Depan untuk mendorong Pertumbuhan Inklusif” ini mempunyai sub-tema mengenai pembinaan terhadap para pelaku sosial. 

“Banyak anak muda yang tertarik menjadi pengusaha. Akan lebih sempurna jika bisnis ini berkaitan dengan kewirausahaan sosial,” kata Menteri Bambang dalam peluncuran IDF 2019, Selasa kemarin, 29 Januari 2019 di Jakarta. 

Forum ini digelar oleh Bappenas dan didukung oleh Pemerintah Australia melalui Knowledge Sector Initiative. Program ini mempertemukan pemangku kepentingan dalam bidang pembangunan untuk duduk bersama merumuskan kebijakan berdasarkan data riset dan praktik baik. Salah satu cara, contoh baik wirausaha sosial bisa masuk melalui  makalah, paparan singkat, artikel, video, atau infografis untuk menampilkan produk dan jasa baru yang dapat memberdayakan dan menginspirasi masyarakat di IDF 2019. **
 

Kewirausahaan Sosial, Peluang Pemuda Mampu Raup Rp19,4 Milliar

 

CEO Du'Anyam Azalea Ayuningtyas (dua dari kanan) seusai mengisi materi di Indonesia Development Forum 2018.

Lima tahun terakhir ini, kewirausahaan sosial di Indonesia tumbuh berkembang di bidang industri kreatif, pertanian, dan pendidikan. Berdasarkan hasil penelitian Komisi Ekonomi dan Sosial untuk Asia dan Pasifik Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCAP) dan British Council, ada 80-an usaha sosial yang telah mapan di tahun 2017, jauh meningkat dibanding lima tahun sebelumnya yang hanya sepuluh bisnis yang telah mapan di sektor ini. Tiga bidang yang paling diminati di sektor usaha sosial adalah industri kreatif (22 persen), agrikultur dan perikanan (16 persen), serta pendidikan (15 persen).

Berbeda dengan jenis usaha lain, kewirausahaan sosial membuka peluang inklusif dan kesetaraan sebagai inti bisnis dengan misi sosial. Kewirausahaan sosial bekerja bersama komunitas termarjinalkan dan kelompok minoritas seperti perempuan dan penyandang disabilitas. 

“Cara kerja kewirausahaan sosial ini menjadi solusi mengatasi kemiskinan dan distribusi kekayaan yang tidak merata di Indonesia,” kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro, dikutip dari sambutan di publikasi Developing an Inclusive and Creative Economy: The State of Social Enterprise in Indonesia yang diterbitkan oleh British Council bersama UNESCAP pada 2019. 

Akhir-akhir ini, tutur Bambang, wirausaha sosial tak hanya menjangkau kota-kota besar, tetapi juga beroperasi di daerah pedesaan. Karena akses dan koneksi daerah terpencil di Indonesia kian terbuka, potensi ekonomi dan daya kreatif masyarakat lokal kian menguat. Wirausaha sosial dapat memberi dampak yang signifikan terhadap perkembangan ekonomi nusantara melalui penyediaan akses kebutuhan dasar seperti energi, pendidikan, dan pangan berkelanjutan serta memberdayakan kelompok-kelompok minoritas.

Usaha sosial juga membantu pemerintah menciptakan kesetaraan peluang tenaga kerja. Data dari British Council, kepemimpinan perusahaan sosial didominasi oleh anak muda (18-34 tahun) Indonesia sebanyak 67 persen dari total keseluruhan atau 342 ribu usaha sosial yang ada. Sebanyak 40 persen dari keseluruhan usaha sosial di Indonesia dipimpin oleh perempuan.

Sektor usaha sosial juga telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam membuka jalan bagi perempuan. Sebanyak 69 persen tenaga kerja yang bekerja di sektor ini adalah perempuan. Alhasil, usaha sosial menyumbang peningkatan 99 persen karyawan perempuan pada 2016-2017 dibandingkan tahun sebelumnya.

Salah satu usaha sosial yang diinisiasi oleh perempuan muda dan memberdayakan ibu rumah tangga adalah Du’Anyam. Usaha yang memberdayakan ibu rumah tangga di Flores, Nusa Tenggara Timur, ini diinisiasi oleh tiga perempuan muda yaitu Azalea Ayuningtyas, Melia Winata, dan Hanna Keraf. Mereka berhasil meningkatkan perekonomian rumah tangga lewat anyaman lontar dan membuat perempuan lebih setara dengan suaminya. 

Baca: 
https://indonesiadevelopmentforum.com/2019/ideas/4621-duanyam-menjalin-tradisi-berdayakan-perempuan-timur  

Contoh lain usaha sosial berbasis komunitas ialah Warung Pintar. Usaha sosial ini muncul dari keresahan pendirinya saat melihat warung kelontong kalah dengan retail modern. Warung Pintar menggaet sejumlah kios kelontong tradisional menjadi warung berbasis teknologi dengan dua pilar yaitu Internet of Things (IoT/ Internet untuk Segala) dan Big Data Analytics (Analisa Mahadata). Hasil akhirnya, mitra mendapatkan omset penjualan per hari rata-rata Rp 300.000-Rp 500.000.

Baca: 
https://indonesiadevelopmentforum.com/2018/article/9278-warung-pintar-bersaing-dengan-retail-modern 

“Keberhasilan usaha-usaha sosial ini berkontribusi dalam meningkatkan Produk Domestik Bruto Indonesia sekitar 1,91 persen atau Rp 19,4 Miliar,” tutur Menteri Bambang.

Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro mengakui kewirausahaan sosial berhasil menempatkan inklusivitas sebagai inti dari pembangunan ekonomi. Sektor ini menyediakan platform yang sama untuk pedesaan dan perkotaan sehingga dua daerah yang berbeda ini dapat saling berkolaborasi menciptakan produk kreatif. 

Melihat potensi kewirausahaan sosial bagi penyediaan lapangan kerja yang inklusif, Bappenas mendorong ide atau gagasan dari banyak pihak lewat Indonesia Development Forum (IDF) 2019. Konferensi internasional dengan tajuk “Mission Possible: Memanfaatkan Peluang Pekerjaan Masa Depan untuk mendorong Pertumbuhan Inklusif” ini mempunyai sub-tema mengenai pembinaan terhadap para pelaku sosial. 

“Banyak anak muda yang tertarik menjadi pengusaha. Akan lebih sempurna jika bisnis ini berkaitan dengan kewirausahaan sosial,” kata Menteri Bambang dalam peluncuran IDF 2019, Selasa kemarin, 29 Januari 2019 di Jakarta. 

Forum ini digelar oleh Bappenas dan didukung oleh Pemerintah Australia melalui Knowledge Sector Initiative. Program ini mempertemukan pemangku kepentingan dalam bidang pembangunan untuk duduk bersama merumuskan kebijakan berdasarkan data riset dan praktik baik. Salah satu cara, contoh baik wirausaha sosial bisa masuk melalui  makalah, paparan singkat, artikel, video, atau infografis untuk menampilkan produk dan jasa baru yang dapat memberdayakan dan menginspirasi masyarakat di IDF 2019. **