Best Paper: Analisis Konektivitas Pelabuhan-Pelabuhan Asia Tenggara dengan Big Data Global Marine Vessel Automatic Identification System

August 27, 2018

Hafida Fahmiasari saat mendapatkan penghargaan dari Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro di perhelatan Indonesia Development Forum 2018

Transportasi laut dianggap sebagai sumber kehidupan ekonomi dunia. Sejak  tahun 1990 hingga 2013, perdagangan maritim dunia meningkat lebih dari dua kali lipat, dengan volume total pada 2013 mencapai hampir 9,6 miliar ton (UNCTAD 2014). Jaringan transportasi darat dan udara memiliki keterbatasan dalam perluasan. Di lain hal, jaringan transportasi laut terus mengalami pertumbuhan yang cepat.

Saat ini, lebih dari 80 persen perdagangan barang internasional dilakukan melalui laut (UNCTAD 2010). Di Asia Tenggara, negara-negara ASEAN menyadari bahwa transportasi maritim menjadi  sektor pendukung logistik dan layanan yang penting. Transportasi laut merupakan katalis untuk pembangunan ekonomi dan daya saing internasional (ASEAN 1999). Integrasi ekonomi ASEAN yang memprioritaskan pengembangan transportasi agar tercipta hubungan yang lebih baik, mau tak mau  mengikat negara-negara anggotanya untuk fokus pada transportasi laut.

Bersamaan dengan ASEAN, Indonesia merupakan negara yang memiliki peluang dan tantangan unik di sektor maritim. Hal ini disebabkan dengan bentuk negara Indonesia sebagai negara kepulauan. Konsisten dengan fokus ASEAN pada pengembangan transportasi, Pemerintah Indonesia pun telah memprioritaskan koneksi maritim di bawah strategi yang lebih luas untuk pembangunan ekonomi nasional dan lokal, Tol Laut.

Tol laut merupakan konsep pengangkutan logistik kelautan yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan di nusantara. Program ini disinyalir dapat  menyeimbangkan pembangunan ekonomi dan mengatasi kesenjangan antara wilayah barat dan bagian timur Indonesia (BAPPENAS 2015).

Hafida Fahmiasari, ekonomis pelabuhan dari Royal HaskoningDHV, meneliti tentang penggunaan big data Global Marine Vessel Automatic Identification System untuk menilai konektivitas pelabuhan-pelabuhan di Asia Tenggara, termasuk yang ada di Indonesia. Automatic Identification System (AIS) adalah sistem untuk menghindari tabrakan antar-kapal. Melalui data AIS ini, simulasi pelabuhan-pelabuhan yang ada di Indonesia lewat dua metode konektivitas pelabuhan, network efficiency model (model efisiensi jaringan) dan betweenness centrality.

Pada analisis dengan dua metode tesebut, simulasi tol laut ternyata dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap Singapura hingga 8 % ketika kapal-kapal dari Asia Timur langsung menuju Pelabuhan Bitung, Sulawesi Utara, dan Sorong, Papua Barat untuk melakukan alih muatan ke Indonesia Timur. Tol laut juga dapat mengurangi ketergantungan perdagangan Indonesia terhadap Tanjung Priok sebanyak 24 %. Karena itu,  pemerintah perlu membangun industri di area timur agar kapal kargo yang kembali ke Barat memilik skala ekonomi yang memadai.

Singapura Masih yang Utama di Asia Tenggara

Analisis AIS menggambarkan konketivitas pelabuhan dan distribusi perjalanan maritim. Mencermati pelabuhan strategis di Asia Timur dan Asia Tenggara, rute Singapura-Malaysia memiliki lalu lintas perjalanan laut tertinggi di Asia Tenggara. Pelabuhan dua negara ini melayani lebih dari 900 perjalanan per bulan. Rute Indonesia-Singapura berada pada posisi kedua dengan 215 perjalanan setiap bulannya. Di susul yang ketiga, Hong Kong-China dengan 190 perjalanan setiap bulan.

Analisis yang dilakukan juga menujukkan kurangnya konektivitas antara Indonesia timur dengan Asia Timur. Ini menunjukkan bahwa hampir setiap pengiriman dari rute Indonesia timur menuju Hong Kong, Kaohsiung di Tiongkong, dan Tokyo, Jepang, selalu melalui pelabuhan di Singapira.

Di Singapura sendiri, 67 % kapal yang menggunakan pelabuhannya merupakan perjalanan internasional. Hasil penelitian ini membuktikan dominasi Singapura dalam transportasi logistik di jalur maritim Asia Timur dan Asia Tenggara.

Gebrakan Lewat Tol Laut

Salah satu tujuan dari penelitian Hafida Fahmiasari adalah untuk mengevaluasi dampak dari rencana Tol Laut terhadap konektivitas jaringan. Ide Tol Laut adalah  menghubungkan bagian barat dan timur Indonesia melalui jaringan hub-feeder. Ada  dua kemungkinan skenario di mana Pelabuhan Bitung atau Pelabuhan Sorong menjadi hub internasional di bagian timur Indonesia. Kapal yang menuju dan berasal dari Asia Timur tak harus lewat Singapura terlebih dahulu.

Skenario pertama yakni model Bitung sebagai hub port, sedangkan dalam Skenario 2, Sorong adalah alternatifnya. Kedua skenario mengasumsikan bahwa akan ada setidaknya satu kapal per minggu yang melewati masing-masing pelabuhan pada rute Tol Laut. Hasilnya menunjukkan, penerapan Tol Laut dapat mengurangi ketergantungan jaringan transportasi laut Indonesiaterhadap Singapura sebesar 8 % dan di Tanjung Priok sebesar 24 %.

Tol Laut tidak hanya meningkatkan distribusi sentralitas ke timur, tetapi juga meningkatkan sentralitas di barat seperti di pelabuhan Belawan dan Batam sekitar 12 %. Hasil analisis efisiensi jaringan menunjukkan bahwa jaringan yang telah digunakan saat ini dan Skenario 2 masing-masing memiliki efisiensi 2,5 perjalanan per hari. Tapi jika menggunakan Skenario 1, dengan Bitung sebagai hub, menghasilkan efisiensi 3 perjalanan per hari. Dengan demikian, Skenario 1 (Bitung menjadi hub port) meningkatkan efisiensi sebesar 20 % dibandingkan jaringan yang telah digunakan maupun pada  Skenario 2.

Kesimpulannya, penggunaan Pelabuhan Bitung memperkuat program Tol Laut yang dicanangkan oleh pemerintah. Ini menegaskan relevansi Tol Laut dengan agenda pembangunan ekonomi Indonesia yang lebih luas. Tol Laut juga harus diimbangi dengan perkuatan di industri di masing-masing hinterland pelabuhan utama.**