Pasar Ide IDF 2018: Berkumpulnya Para Inovator dari Pelosok Negeri

July 11, 2018

Suasana Pasar Ide SPOT C Narrowing the Gaps at the Periphery


Jakarta 11 Juli 2018-Ratusan orang tumpah ruah memadati Pasar Ide Indonesia Development Forum 2018 yang dihelat di Grand Mutiara 1 dan 2, Hotel Ritz Carlton, Jakarta. Mereka semua ingin mendengar kisah inspiratif dan praktik baik dari inovator pelosok negeri. 

Hampir seratus orang inovator ini mempunyai ide dan gagasan jitu mengatasi kesenjangan di Indonesia. Seperti yang disampaikan oleh wirausaha sosial sekaligus Founder Walibu, Herlina Yawang, yang menjual tas khas Papua yang bernama noken. 

"Noken sudah diakui UNESCO tapi penjualannya memprihatinkan. Seperti di pinggir jalan, di boat. Solusinya kami menyediakan platform online sosial media yaitu Walibu untuk penjualan yg lebih luas dan dapat dijangkau," kata Herlina saat ditemui, Rabu, 11 Juli 2018. 

Cerita inspiraif lainnya muncul dari Direktur CIS Timor Haris Oematan dalam mengatasi bencana kekeringan dan potensi kelaparan dari ubi jalar ungu dengan metode kultivasi. Haris mengatakan ubi ungu ini mempunyai keunggulan bisa ditanam di pinggiran pantai sehingga cocok dengan kondisi di NTT. 

Hasil panennya pun menjanjikan. Satu buah ubi ungu yang siap panen bisa mencapai berat 1 kg sehingga bisa dikonsumsi seluruh keluarga.

Tak hanya urusan pangan dan ekonomi, inovasi terkait akses pendidikan yang lebih baik juga ada di Pasar Ide IDF 2018. Seperti yang disampaikan oleh Alfonsus Dwianto dari Dana Cita. Menurut dia, platform yang dia buat sangat membantu anak bangsa yang ingin meraih jenjang pendidikan tinggi meski terbatas anggaran. Sistemnya, mereka akan mendapatkan kredit dana pendidikan yang bisa dilunasi setelah waku pendidikan usai. 

"Dana Cita tidak hanya menyediakan bantuan dana melainkan kita juga memastikan anak-anak mendapatkan program seperti soft skill development program, agar anak-anak tau apa yang akan mreka kerjakan," kata Alfonsus Dwianto. 

Inovasi terkait akses dasar lain disampaikan oleh Siska Verawati dari Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives. Dia mempunyai gagasan mengatasi sulitnya akses listrik di puskesmas pedalaman. Mengatasi ini, Siska menyarakan gerakan patungan listrik puskesmas yang melibatkan seluruh pihak mulai dari pemerintah, pihak swasta hingga masyarakat setempat. 

Hasilnya, instalasi solar cell atau panel listrik tenaga matahari telah memberikan aliran listrik 24 jam kepada tiga puskesmas yaitu Puskesmas Lindu, Sulawesi Tenga, Puskesmas Sarina, NTT, dan Puskesmas Karataun, Sulawesi Barat dengan jumlah penerima manfaat sebanyak 15.500 jiwa.

Upaya-upaya inovator mengatasi kesenjangan ini tentu perlu didengar oleh banyak pihak. Cara mereka juga bisa dicontoh oleh daerah lain dengan kondisi yang sama. Indonesia Development Forum 2018 mempertemukan para inovator dengan pihak lain agar informasi mereka tersebar luas.

IDF 2018 sendiri digelar oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan didukung Pemerintah Australia melalui Knowledge Sector Initiative (KSI). Tema yang diangkat tahun ini adalah “Terobosan untuk Mengatasi Ketimpangan antar-Wilayah di Seluruh Nusantara”. 

IDF 2018 mendorong percepatan pembangunan di Indonesia yang lebih merata dan berkelanjutan berbasiskan ilmu pengetahuan, pengalaman, dan fakta. Hasilnya akan digunakan untuk bahan penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2020-2024.**