IDF 2018, Gubernur Soekarwo dan Bupati Hasto Paparkan Inovasi Air Minum

July 10, 2018

Pembicara High Level Talkshow IDF 2018 berfoto bersama dengan Menteri PPN/Kepala Bapenas Bambang Brodjonegoro. Bupati Hasto dan Gubernur Soekarwo berdiri paling kanan dan nomor dua dari kanan.

Jakarta 10 Juli 2018- Gubernur Jawa Timur Soekarwo dan Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo menjadi pembicara di High Level Talkshow Indonesia Development Forum 2018, Jakarta, Selasa, 10 Juli 2018. Ada kesamaan topik menarik dua kepala daerah tersebut yaitu terkait inovasi air minum daerah. 

"Penyediaan air minum Umbulan yang sempat mangkrak sejak zaman kolonial Belanda, akhirnya bisa selesai dengan inovasi daerah," kata Pakde Karwo, panggilan akrab Soekarwo. 

Pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Umbulan, Pasuruan, ini bisa diselesaikan setelah ada kerja sama antara pemerintah daerah, Badan Usaha Milik Daerah, dan pihak swasta. Proyek ini menelan nilai investasi total sebesar Rp 4,51 triliun untuk instalasi pengolahan air, transmisi, offtake, reservoir, dan jaringan distribusi di lima Kabupaten/Kota. Yaitu Kabupaten Pasuruan, Kota Pasuruan, Kabupaten Sidoarjo, Kota Surabaya dan Kabupaten Gresik.

Proyek SPAM Umbulan berkapasitas 4.000 liter per detik dengan air baku berasal dari Mata Air Umbulan berlokasi di Desa Umbulan, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan yang disalurkan melalui pipa transmisi air bersih sepanjang 93 km. Kerja sama dalam pendanaan dan pengelolaan SPAM Umbulan ini tak hanya terkait pendanaan melainkan juga pengelolaan. Hasilnya, kata Soekarwo, masyarakat mendapatkan air minum yang murah dan berkualitas dengan harga hanya Rp 2.400 per meter kubik dan hanya Rp 1.050 per meter kubik untuk Kota Pasuruan. Padahal, harga yang terealisasi bila dibiayai badan usaha plat merah berkisar Rp 7.000 per meter kubik. 

"Harga murah dengan kualitas air minum dari Umbulan terbaik nomor dua di dunia," ujar Pakde Karwo. 

Bila penyediaan air minum di area utara Jawa Timur menggunakan skema kerja sama dengan swasta, inovasi lain muncul dari Kabupaten Kulonprogro yang telah memproduksi sendiri air minum dalam kemasan. Menurut Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo, ide ini muncul dari setelah prihatin melihat penggunaan air minum kemasan di Kulonprogo yang begitu tinggi. 

"Sebanyak 6 juta gelas air kemasan diminum oleh rakyat Kulonprogo setiap bulan," ujar Hasto. 

Air kemasan yang dikonsumsi merupakan produk luar daerah. Padahal,  ada sumber mata air yang melimpah di daerah Clereng, Desa Sendangsari, Kecamatan Pengasih, Kulonprogo. Sebelumnya air dari Clereng hanya digunakan untuk pelanggan PDAM saja.

Bertekad mewujudkan kemandirian bidang ekonomi, Hasto kemudian menugaskan Kepala PDAM Kulonprogo untuk memproduksi air minum kemasan sendiri sejak tiga tahun yang lalu.  Nyatanya tantangan ini terwujud dengan hadirnya air minum dalam kemasan produk sendiri bernama AirKu yang berarti air Kulonprogo. Hingga kini, produksi Airku telah dikonsumsi sebanyak 2 juta gelas setiap bulan. 

"Kami juga sudah melakukan MoU dengan Angkasa Pura bahwa Airku harus digunakan di Bandara Internasional Kulonprogo," kata Hasto. 

Inovasi-inovasi menarik dari para pemerintah daerah inilah yang perlu menjadi contoh lewat Indonesia Development Forum 2018. IDF 2018 digelar oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan didukung Pemerintah Australia melalui Knowledge Sector Initiative (KSI). IDF 2018 mendorong percepatan pembangunan di Indonesia yang lebih merata dan berkelanjutan berbasiskan ilmu pengetahuan, pengalaman, dan fakta. Hasilnya akan digunakan untuk bahan penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2020-2024.**