Komitmen Inklusif IDF 2018 untuk Akses Penyandang Disabilitas

July 05, 2018

Pegiat disabiltas saat melakukan inpeksi di Hotel Ritz Carlton, Mega Kuningan, akhir Juni lalu.

Saat berumur 29 tahun pada 2004 silam, Sugianto baru bisa menggunakan hak pilihnya di Pemilu. Sebelumnya, dia luput dari surat panggilan memilih meski rumahnya hanya berjarak 100 meter dari Tempat Pemungutan Suara di Pacitan. Alasannya kala itu, Sugianto yang tuna netra sering diabaikan hak pilihnya. 

“Tahun 2004 dulu kesulitan masalah pendamping karena KPPS tidak menyediakan (tenaga pendamping). Terus saya minta tolong istri karena dia yang saya percayai,” kata Sugianto seperti yang dikutip dari Detik.com, akhir Juni 2018.

Seiring dengan gencarnya sosialisasi Komisi Pemilihan Umum (KPU), jumlah pemilih dari kelompok difabel kian meningkat. Alat bantu untuk pemilih makin banyak tersedia seperti template khusus, alat peraga dengan visual yang menarik untuk teman tuli, hingga meja coblos yang mudah diakses pengguna kursi roda.  Petugas pendamping pun juga banyak tersedia.

Sejatinya, siapapun warga negara di Indonesia termasuk penyandang disabilitas berhak mengakses ruang publik dan hak dasarnya. Karena itulah dibutuhkan ruang inklusif yang tak hanya gedung atau fasilitas umum, tetapi juga untuk semua kegiatan. Langkah ini tentu tak mudah karena ada pandangan fasilitas yang ramah akses kelompok difabel dianggap lebih sulit dibanding orang biasa. 

“Tapi sebenarnya fasilitas (untuk penyandang disabilitas) bertahap bisa dikejar dan diperbaiki,” kata peneliti dari Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia Fajri Nursyamsi di sela-sela inspeksi persiapan acara Indonesia Development Forum (IDF) 2018 yang akan digelar pada 10-11 Juli 2018 mendatang. 

IDF 2018 kali ini mengambil tema “Terobosan untuk Mengatasi Kesenjangan Disparitas Pembangunan Regional di Seluruh Wilayah Nusantara”. Forum ini digelar oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan didukung Pemerintah Australia melalui Knowledge Sector Initiative (KSI). IDF 2018 mendorong percepatan pembangunan di Indonesia yang lebih merata dan berkelanjutan berbasiskan ilmu pengetahuan, pengalaman, dan fakta. Hasilnya akan digunakan untuk bahan penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2020-2024.

Fajri mengatakan akses untuk disabilitas harus disesuaikan dengan kemampuan penyandang. Misalnya untuk teman tuli, katanya, harus dekat dengan petunjuk visual sehingga setiap acara semestinya dekat dengan layar. Sementara, untuk pengguna kursi roda perlu ruangan yang lapang agar mereka lebih leluasa. 

Sejumlah gedung di Indonesia telah banyak yang menambah fasilitas ramah disabilitas. Misalnya, Perpustakaan Nasional di bilangan Jakarta Pusat yang sudah dilengkapi dengan guiding block atau jalur pemandu di dalam dan di luar ruangan. Guiding block yang fungsinya untuk memandu tunanetra ini dibuat rata dengan lantai. Berbeda dengan yang berada di trotoar jalan raya yang lebih empuk dan berbentuk memanjang. Guiding block ini mengarahkan pengunjung perpustakaan ke beberapa tempat seperti menuju elevator, eskalator, atau ruangan-ruangan yang dituju. 

Fasilitas ramah disabilitas lain seperti trotoar di depan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Tak hanya guiding block, trotoar ini juga dilengkapi dengan railing atau pegangan besi setinggi pinggang yang mengarah ke area dalam rumah sakit. Railing  ini memang dibuat untuk mengarahkan disabilitas untuk menuju ke ruangan lain. Penyandang disabilitas daksa pengguna kursi roda memanfaatkan pegangan untuk menjaga keseimbangan, sedangkan tunanetra menggunakannya agar dapat berjalan lebih cepat. Meski tak sepenuhnya ada, banyak fasilitas umum di kota-kota besar yang disediakan untuk penyandang disabilitas.

Gubernur DKI Jakarta pada masa Djarot Saiful Hidayat, juga telah meresmikan sebuah toilet yang ramah bagi kaum disabilitas di kawasan wisata Monumen Nasional. 

"Ini prototipe dari toilet yang akan dibangun oleh Pemprov DKI Jakarta. Kami harus punya prototipe dengan standardisasi dan kami ingin sebetulnya membangun toilet semacam ini, yang kayak di mal, untuk ditempatkan di taman-taman kota," ujar Djarot, seperti dikutip Kompas.com, pertengahan Agustus tahun lalu.

Tak hanya fasilitas umum plat merah, tempat komersil juga banyak yang mulai menyediakan fasilitas ramah disabilitas. Salah satunya Hotel Ritz Carlton Mega Kuningan, Jakarta, tempat Indonesia Development Forum 2018 dihelatkan. Meski masih ada yang perlu dibenahi, hotel ini telah menyediakan toilet khusus untuk disabilitas. Di beberapa tangga juga telah berdiri railing meski tak sepenuhnya tersedia.

Ballroom (Hotel Ritz Carlton Mega Kuningan) sudah bagus karena tak ada pilar sehingga bisa melihat seluruh ruangan,” kata Irdanelly, Ketua Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia DKI Jakarta. 

Irda mengatakan teman tuli membutuhkan ruangan yang tak terhalang agar bisa leluasa melihat dan mengikuti  acara. Sementara ketiadaan pilar juga membantu pengguna kursi roda dan tuna netra leluasa bergerak. 

Dalam IDF 2018 nanti, petugas pendamping juga disediakan untuk membantu disabilitas mengakses acara berskala internasional.  IDF 2018 menggandeng relawan Bravo for Disabilities sebagai pendamping untuk penyandang disabilitas. Mereka sudah terbiasa mendampingi penyandang disabilitas --dengan segala kemampuan—di banyak acara.

Relawan dari Bravo for Disabilities akan ditempatkan mulai dari lobi hingga setiap ruangan, termasuk sistem estafet yang membantu penyandang bergerak dari ruangan satu ke ruangan lain, termasuk ke toilet sekalipun. Pendamping disesuaikan dengan jenis kelamin penyandang disabilitas yang membutuhkan. Panitia pelaksana IDF juga akan diberi pembekalan untuk memahami perspektif difabel dan membuat acara yang ramah disabilitas. 

Namun demikian, Ketua Persatuan Tuna Netra Indonesia DKI Jakarta, Eka Setiawan mengingatkan adanya pendamping tak boleh mengurangi makna dari inklusifitas sebuah acara. Artinya, penyandang disabilitas tetap diperlakukan sebagai individu yang mandiri dan tidak dibeda-bedakan peserta yang lain. 

“Teman disabel tidak perlu diberi tanda khusus, justru pendamping yang memakai tanda khusus agar mudah dimintai bantuan ketika berhadapan banyak orang,” kata Eka.**