Infrastruktur Membaik, Mudik Lancar

June 13, 2018

ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

“Berangkat dari Kuningan (Jawa Barat) jam 5.00 pagi, sampai Kediri (Jawa Timur) jam 14.30. Alhamdulilah lancar plus cepat banget nih. Makasih ya tol baru udah bisa dipakai #ceritamudik2018,” tulis Ajeng, seorang ibu rumah tangga yang diunggah di akun facebook-nya 9 Juni 2018.

Sejumlah tol baru memang telah dioperasikan guna mendukung kelancaran arus lalu lintas pemudik menjelang hari raya Idul Fitri tahun ini. Tak hanya Trans Jawa, jalan tol Trans Sumatera, Trans Kalimantan, bahkan Trans Sulawesi juga dipadati pemudik pengguna mobil.

Kementerian Perhubungan memprediksi perjalanan arus mudik tahun ini meningkat dibanding tahun sebelumnya. Lonjakan ini diprediksi karena membaiknya sejumlah infrastruktur baik di Jawa maupun luar Jawa, seperti tol di jalur Pantai Utara Jawa, Trans-Sumatera, Trans-Sulawesi, dan infrastruktur lain.

Dilansir dari laman Katadata, perkiraan lonjakan mobil sebesar 16 persen, kendaraan roda dua 33 persen. Sementara angkutan laut dan kereta api diprediksi tumbuh dua persen. Lonjakan juga akan terjadi di angkutan udara naik 9 persen. Bahkan, mudik ke Indonesia timur meningkat 16 persen.

“Tak bisa dipungkiri juga, kalau lihat di angkutan udara, daya beli masyarakat membaik,” kata Menteri Perhubungan Budi Karya seperti yang dilansir KataData, pertengahan Mei lalu.

Sebagai informasi dari situs Setkab.go.id, pembangunan infrastruktur koneksi sudah mulai dirintis sejak tahun 2015. Pada 2015, terdapat 1.286 km jalan yang baru dibangun. Setahun kemudian, pemerintah membangun 559 km jalan. Dan 2017 telah dibangun 778 km jalan baru. Sehingga total jalan baru yang telah dibangun sepanjang 2.623 km.

Tahun 2018, pemerintah menargetkan sepanjang 1.071 km jalan baru dan 1.120 km pada 2019 akan dibangun. Dengan demikian, diharapkan total pembangunan jalan baru di era Jokowi-JK mencapai 4.814 km.

Selain jalan umum, telah terbangun pula jalan tol yang mencapai 568 km yang terbagi atas sepanjang 132 km pada 2015, 44 km pada 2016, dan sisanya akan dibangun 392 km pada tahun ini. Jokowi bahkan menargetkan pembangunan jalan tol hingga 2019 mendatang mencapai 1.851 km.

Mulai 2015 hingga awal 2018, pemerintah sudah membangun sepanjang 25.149 meter jembatan. Sampai, 2019, pemerintah menargetkan pembangunan jembatan sepanjang 29.859 meter. Alhasil, sarana konektivitas semakin baik sehingga mobilitas pendudukan dari Pulau Jawa ke luar Jawa semakin mudah.

Infrastruktur tak hanya untuk pemudik

Pembangunan infrastruktur tak hanya bermanfaat bagi pemudik melainkan juga mengatasi kesenjangan, meratakan pertumbuhan ekonomi, dan memunculkan pusat pertumbuhan ekonomi baru.  Dilansir dari laman resmi Setkab.go.id,  Presiden Jokowi menyinggung mengenai pentingnya pembangunan infrastuktur yang kini dilakukan dengan gencar oleh pemerintah, mulai dari jalan tol, baik di Jawa maupun di luar Jawa, bandara baru dibangun atau bandara yang sudah ada diperluas lagi, pelabuhan dibangun baik pelabuhan besar, pelabuhan kecil maupun pelabuhan sedang.

Ia menunjuk contoh Pelabuhan Kuala Tanjung di Sumatera Utara. Pelabuhan Tanjung Priok juga diperluas sehingga kapal sebesar apapun bisa merapat ke pelabuhan. Makassar New Port hingga Sorong, Papua juga dibangun pelabuhan agar kapal-kapal besar semuanya bisa merapat.

Lebih lanjut, Presiden menceritakan bahwa proses pembangunan juga dilakukan di pelabuhan-pelabuhan kecil, misalnya Pelabuhan Tapaleo, Halmahera Tengah. Ia menyampaikan bahwa pelabuhan kecil itu diperlukan untuk mengantarkan semen, sembako, beras, gula menuju ke sana dan membawa dari sana. Misalnya jagung, palawija, pala, semuanya untuk keluar dijual ke pulau-pulau yang lain.

“Inilah yang sering saya sampaikan yang namanya tol laut, mengoneksikan (dan) menyambungkan antar pulau, antar provinsi, antar kabupaten, antar kota yang ada di negara kita Indonesia,” kata Presiden Jokowi pada pertengahan April 2018.

Pembangunan dipercepat di daerah pinggiran dan perbatasan untuk menumbuhkan titik perekonomian baru. Selain itu, kawasan timur Indonesia menjadi perhatian khusus untuk mengurangi ketimpangan antarwilayah.

Sejak krisis 1997, ketimpangan di Indonesia lebih parah dibandingkan dengan negara lain. Sekitar 80 persen pertumbuhan terjadi di kawasan barat Indonesia. Makin ke timur, makin kecil perekonomian regional berkontribusi terhadap perekonomian nasional. Kesejahteraan satu pulau bahkan sangat tertinggal hanya dibandingkan dengan DKI Jakarta. Contohnya, Papua dan Nusa Tenggara yang memiliki ketimpangan paling tinggi. Padahal, daerah timur kaya dengan sumber daya alam dan keanekaragaman budaya yang potensial.

Selain antarwilayah, ketimpangan terjadi antara kawasan perkotaan dan perdesaan. Keduanya memiliki kualitas pelayanan dasar yang tidak setara. Padahal, hal ini sangat krusial bagi produktivitas ekonomi dan kesejahteraan sosial penduduk.

Menyikapi hal ini, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional menggelar Indonesia Development Forum 2018 dengan tema ‘Pathways to Tackle Regional Disparities Across The Archipelago’. IDF 2018  juga didukung oleh Pemerintah Australia melalui Knowledge Sector Initiative dengan tujuan mendukung percepatan pembangunan di Indonesia yang lebih merata dan berkelanjutan berbasiskan ilmu pengetahuan, pengalaman, dan fakta.