Best Paper IDF 2019: Dyah Pritadrajati Menekankan Investasi untuk Perempuan, Investasi untuk Seluruh Bangsa

August 13, 2019

Dyah Pritadrajati presentasi di Sesi Innovate berjudul “Reforming the Vocational Education and Training (TVET) System for Futute Job”.

Peraih Best Paper di Indonesia Development Forum (IDF) 2019, Dyah Pritadrajati mendorong agar pemerintah berinvestasi lebih banyak untuk perempuan, termasuk dalam bidang pendidikan vokasi.  Paparan yang disampaikan Dyah merupakan bagian dari Sub-tema 2, Reformasi Sistem Pendidikan dan Pelatihan Vokasi (TVET) untuk Pekerjaan Masa Depan

Dalam penelitian saya, ditemukan bahwa perempuan yang bersekolah di sekolah vokasi memberi outcomes yang lebih tinggi ketimbang mereka yang bersekolah di sekolah umum,” kata Dyah Pritadrajati, peneliti dari Oxford Poverty and Human Development Initiative (OPHI). 

Penelitian Dyah yang menerima penghargaan dari Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional / Bappenas, Bambang Brodjonegoro  itu berjudul “From School to Work: Does Vocational Education Improve Labour Market Outcomes? An Empirical Analysis of Indonesia”.

Dyah Pritadrajati sebelumnya bekerja sebagai Ekonom Magang di International Fund for Agricultural Development (IFAD). Penguasaannya atas alat analisis yang ketat dan metode kuantitatif ekonomi telah memberikan kontribusi pada pembuatan analisis yang kuat dan publikasi berkualitas dalam ekonomi pembangunan. Dia menyelesaikan MSc Ekonomi untuk Pembangunan di University of Oxford, Inggris pada 2017 dan MPhil in Economics di University of Cambridge pada  2018.

Berdasarkan temuan dalam penelitiannya, terkait pendidikan vokasi, Dyah menyebut perempuan lebih memberikan hasil tinggi dibanding sekolah umum.  Dyah mengukur hasil yang lebih tinggi tersebut  berdasarkan empat variabel yaitu partisipasi angkatan kerja, risiko pengangguran, formalitas pekerjaan, dan pendapatan. 

Sementara, laki-laki yang bersekolah di kejuruan tidak ditemukan perbedaan.  Pendidikan sekolah kejuruan negeri tidak memberikan keuntungan yang jelas bagi lulusan laki-laki ketika memasuki dunia kerja.

“Keberhasilan lulusan laki-laki lebih ditentukan faktor sekolah negeri atau swasta daripada faktor sekolah umum atau kejuruan,” lanjut Dyah.

Selain itu, Dyah menemukan bahwa banyak sekolah kejuruan berkinerja buruk, terutama sekolah swasta. Padahal selama ini, pendidikan kejuruan dipandang memberi siswa kesempatan untuk belajar lebih mendalam tentang pekerjaan tertentu yang relevan. Namun dampak pendidikan kejuruan tersebut terhadap pasar tenaga kerja ternyata masih jauh dari meyakinkan. Agar pendidikan kejuruan bisa menghasilkan lulusan yang bisa masuk pasar kerja, perlu ada jaminan kualitas kerja, serta perubahan dalam praktik perekrutan.

 

Peningkatan Kualitas Kejuruan dan Partisipasi Perempuan

 

Dari hasil temuan penelitian pendidikan vokasi, Dyah menyampaikan tiga rekomendasi. Pertama, selama ini masyarakat memandang bias kemampuan perempuan.  Perempuan dalam pendidikan kejuruan masih terkonsentrasi dalam spesialisasi keterampilan feminin tradisional.

“Seperti menjahit, memasak, atau kerajinan tangan, dan yang sudah terlalu jenuh,” tambahnya.

Spesialisasi seperti itu juga menawarkan pengembalian terbatas dalam hal pendapatan.  Untuk meningkatkan penyerapan lebih banyak perempuan muda ke pasar tenaga kerja secara signifikan, sekolah kejuruan tidak hanya harus meningkatkan tetapi juga diversifikasi partisipasi.

“Perempuan harus didorong ke bidang matematika, computer science, engineering, teknik, otomotif, dan lain-lain,” katanya.

Untuk sampai pada tahap ini, perlu mengubah pola pikir bahwa perempuan bisa terampil  dan  investasi untuk perempuan itu penting. Kesadaran itu tidak hanya dari pemerintah, tapi juga masyarakat, terutama keluarga. 

“Ada pepatah mengatakan, ‘Jika kamu menginvestasikan untuk perempuan, maka kamu menginvestasikan untuk seluruh masyarakat dalam bangsa ini.’ Jadi, tidak hanya perempuan saja yang beruntung, tapi juga laki-laki yang beruntung,” paparnya.

Kedua, perlu meningkatkan kualitas sekolah kejuruan. 

“Dalam hal kurikulum; kualitas guru, keberadaan sarana prasarana. Sebab sekolah kejuruan sering bergulat dengan kekurangan sumber daya dan peralatan,” katanya. 

Tanpa peningkatan kualitas pendidikan kejuruan, menurut Dyah, perluasan sekolah kejuruan yang diterapkan secara luas saat ini tidak akan efektif secara biaya, baik untuk pemerintah maupun untuk siswa.

“Sekarang itu yang paling penting adalah action-nya, komitmen pemerintah dan semua elemen masyarakat, termasuk  perusahaan,” lanjut Dyah.

Ketiga, memperkuat hubungan dan koordinasi dengan industri untuk mengatasi ketidakcocokan lulusan dan pasar kerja. Sistem pendidikan kejuruan perlu meningkatkan kualifikasi lulusan dan memberikan keterampilan yang lebih relevan dengan kebutuhan pasar tenaga kerja. Selain itu, harus meningkatkan akses lulusan terhadap konseling, bimbingan karir, dan pelatihan pengembangan keterampilan. Untuk itu, kata Dyah, perlu ada komunikasi yang jelas antara lembaga pendidikan dan industri.

“Jadi, apa sih yang sebenarnya dibutuhkan dalam indusri itu? Keahlian-keahlian apa saja yang dibutuhkan perlu dikomunikasikan. Dengan demikian, sekolah pun akhirnya bisa menargetkan skill apa yang perlu disiapkan,” lanjutnya.  Terkait upaya mencocokkan skill dan kebutuhan pasar ini, Dyah menambahkan pemerintah sudah punya usaha bagus .

“Saya dengar perusahaan yang menyediakan tempat untuk magang  dapat tax reduction. Jadi, ada insentif buat perusahaan,” tambahnya.

Dikutip dari KBR.id, setiap badan usaha yang membuka praktik magang bisa mendapat diskon pajak hingga 200 persen. Ketentuannya tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 45 Tahun 2019. Menurut Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution, kebijakan ini bertujuan supaya perusahaan bisa aktif mengembangkan keahlian pekerja.

Dyah menambahkan Indonesia bisa mencontoh Australia yang memiliki institusi khusus menaungi vokasi.

“Jadi, ada koordinator yang bisa mengerakkan. Karena selama ini tidak  ada leading, antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Ketenagakerjaan,” katanya. 

Dyah mempresentasikan penelitiannya pada gelaran IDF 2019 di Sesi Innovate berjudul “Reforming  the Vocational  Education and Training (TVET) System for Futute Job”. Kajian Dyah menjadi rekomendasi dalam tema besar IDF 2019, Mission Possible: Memanfaatkan Peluang Pekerjaan Masa Depan untuk Mendorong Pertumbuhan Inklusif. 

Selamat untuk Dyah sebagai pemenang best paper!