Tak Perlu Jago Masak, Gurihnya Usaha Kuliner Ciptakan 7,5 Juta Tenaga Kerja

March 25, 2019

Deputi Akses Permodalan Bekraf Fadjar Utomo (Sumber: Tempo.co)

“Ada 16,9 juta pekerja ekonomi kreatif, yang terlibat di sektor kuliner juga sangat besar sekitar 7,5 juta orang,” kata Fadjar saat membuka diskusi “Menjadi Raja di Negara Sendiri dan Go Global” yang digelar oleh Tempo.co, pertengahan Maret 2019 lalu.

Deputi Akses Permodalan Bekraf Fadjar Utomo mengatakan 42 persen sumbangan ekonomi kreatif berasal dari sektor kuliner. Ekonomi kreatif menjadi penyumbang terbesar nomor dua Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia setelah minyak dan gas. Berdasarkan data Badan Ekonomi Kreatif/(Bekraf), angka PDB ekonomi kreatif mencapai Rp 1100 triliun.

Fadjar mengatakan bisnis kuliner adalah industri yang inklusif. Siapapun bisa masuk di bidang ini, mulai dari usaha mikro hingga besar. Bahkan, ujar Fadjar, usaha kuliner paling tahan terhadap krisis ekonomi seperti yang terjadi pada tahun 1998.

Saat ini, bisnis kuliner mulai dilirik oleh pemberi modal, menyaingi usaha rintisan yang berupa aplikasi digital. Alasannya, tutur Fadjar, aliran balik modal bisnis kuliner lebih cepat startup berbasis aplikasi.

“Maka dari itu, Bekraf membuat program Food Startup Indonesia,” ujar Fadjar.

Setelah adanya teknologi digital, bisnis kuliner makin berkembang. Kini, para ibu rumah tangga tak perlu keluar rumah atau memiliki warung agar bisa membuka bisnis makanan. Mereka hanya cukup mengandalkan kompor atau alat memasak lain, serta aplikasi digital.

Meski demikian, kata Fadjar, usaha kuliner tanah air masih menduduki peringkat nomor tiga di ekspor ekonomi kreatif setelah fesyen dan kria. Fadjar melihat ada lima tantangan di usaha kuliner agar bisa mendunia. Lima tersebut adalah standarisasi produk layanan, regulasi, pengembangan kapasitas usaha, pendanaan, dan ekosistem.

“Pengusaha kuliner harus memastikan kualitas produk, pelayanan, operasional, hingga penyajian terjamin dari waktu ke waktu, dari gerai satu dengan yang lain. Karena itulah pebisnis perlu membuat standar,” kata Fadjar.

Mengatasi hambatan lain, Fadjar menuturkan pemerintah berusaha mengurangi regulasi yang menghambat agar usaha kuliner bisa berkembang. Bekraf juga mengupayakan National Interest Account (NIA) atau program ekspor nasional atas biaya pemerintah. Dari sini, pengusaha kuliner akan mendapatkan bantuan pendanaan dan jaringan sehingga memperkuat ekosistem bisnis makanan.

Chief Executive Officer Foodizz.id --usaha rintisan yang memfasilitasi pebisnis kuliner naik kelas dan ekspansi ke pasar global-- Andrew Sinaga mengatakan ada tiga masalah yang membuat usaha makanan gagal berkembang. Tantangan ini terkait biaya operasional seperti sewa tempat yang terus naik, masalah perizinan, dan kesulitan permodalan.

“Ini disebabkan banyak yang terjun di bisnis kuliner dengan alasan coba-coba tanpa mempunyai knowledge dan jaringan yang kuat,” kata Andrew.

Menyikapi ini, Andrew mencermati bahwa pengusaha memerlukan solusi berupa akses informasi pembelajaran, relasi dengan pakar di bisnis kuliner, dan teknologi yang mempermudah. Karena itulah, startup berbasis aplikasi digital yang dia buat bertujuan memberikan fasilitas ini kepada pengusaha kuliner.

 

Tak Harus Bisa Masak, Tak Perlu Takut DIjiplak

Direktur Tempo Inti Media, Toriq Hadad mengatakan usaha kuliner adalah bisns yang tak ada matinya asal punya pengetahuan, jaringan, dan modal yang kuat. Toriq menyarankan agar pengusaha kuliner fokus pada anak muda, seperti yang dilakukan oleh pendiri Cipta Rasa Prima Goup Rex Marindo yang menaungi merek Warunk Upnormal dan Bakso Boedjangan.

“Karena anak muda itu punya buying power yang lebih panjang daripada orang tua,” kata Toriq.

Rex membocorkan kiat suksesnya menyasar pasar kelompok muda untuk produk kulinernya. Dia menyarankan para pengusaha agar melihat kebutuhan target pasar dan jasa yang telah tersedia selama ini. Saat membuka Warunk Upnormal, Rex mencermati kebutuhan anak muda seperti nongkrong dengan WiFi dan colokan yang tidak biasanya disediakan oleh warkop. Sementara kedai kopi modern terlalu mahal untuk dijangkau.

Rex menyebut pengetahuan mencermati pasar dan menciptakan diferensiasi usaha ini penting bagi pengusaha kuliner. Dia mengatakan keahlian memasak tidak harus dimiliki oleh pendiri bisnis kuliner.

Skill memasak itu penting, tapi bukan berarti harus kamu yang melakukannya, bisa orang lain. Mending kamu fokus pada pengembangan usaha,”  kata Rex saat menjawab pertanyaan dari peserta gelar wicara.

Kiat lain diberikan oleh pemilik bisnis roti Beau, Talita Setyadi. Dia menyarankan agar pengusaha kuliner tak takut produknya dijiplak oleh orang lain. Bahkan, ditiru oleh mantan pekerja. Talita menyarankan agar pengusaha lebih fokus membuat inovasi produk baru dan mempertahankan kualitas.

“Fokus saja inovasi, penjiplak tak akan bisa mengikuti,” kata Talita.

Talita menganjurkan agar pengusaha kuliner memperluas jaringan baru dan mendengar masukan serta kebutuhan konsumen. Berkat cara inilah, Talita dengan Beau berhasil memasok roti ke lebih dari 100 kafe dan restoran di Indonesia dalam empat tahun.

Bisnis kuliner terbukti menciptakan lapangan kerja dan menumbuhkan ekonomi inklusif. Solusi dan praktik baik inilah yang akan dibahas di Indonesia Development Forum. Forum internasional ini akan digelar 22-23 Juli 2019 ini mengambil tema  “Mission Possible: Memanfaatkan Peluang Pekerjaan Masa Depan untuk Mendorong Pertumbuhan Inklusif”. Kirimkan idemu sekarang!**